Kerapuhan Kripto: "Spekulasi Tanpa Jangkar"

Jika saham masih punya aset fisik (pabrik, tanah, produk), kripto jauh lebih rapuh karena:

  • Tanpa Underlying Asset: Sebagian besar aset kripto tidak menghasilkan arus kas atau produk nyata. Nilainya murni berdasarkan hukum permintaan dan penawaran: "Saya beli sekarang karena saya harap ada orang yang lebih bodoh dari saya yang mau beli lebih mahal nanti" (Greater Fool Theory).

  • Volatilitas Ekstrem: Karena tidak ada "jangkar" nilai yang nyata, emosi manusia (ketakutan dan keserakahan) menjadi penggerak utama. Satu cuitan tokoh besar atau regulasi satu negara bisa menghapus kekayaan triliunan rupiah dalam hitungan menit.

  1. Dalam sistem ini, agar seseorang bisa untung Rp1 juta, harus ada orang lain (atau kumpulan orang) yang rugi Rp1 juta. Uang tidak diciptakan dari nilai tambah atau produksi barang, melainkan hanya berpindah tangan.

​Inilah sisi gelap yang Anda temukan dalam riset tersebut:

​1. Greater Fool Theory (Teori Orang yang Lebih Bodoh)

​Ini adalah inti dari "kesadaran" yang Anda maksud. Banyak orang masuk ke dunia kripto bukan karena percaya pada teknologinya, tapi karena sadar bahwa mereka sedang berjudi.

  • ​Mereka membeli aset yang tidak bernilai, berharap bisa menjualnya ke "orang yang lebih bodoh" dengan harga lebih tinggi sebelum harganya hancur.

  • ​Masalahnya, setiap orang merasa dirinya adalah si "pintar", padahal dalam skema ini, pasti akan ada seseorang yang memegang aset tersebut saat nilainya menjadi nol.

​2. Kesadaran dalam "Kehancuran"

​Yang membuat ini aneh—seperti yang Anda amati—adalah sukarela.

  • Efek Kasino: Di kasino, semua orang sadar bahwa secara statistik bandar akan menang, tapi mereka tetap datang karena harapan akan "keberuntungan instan".

  • FOMO (Fear of Missing Out): Ketakutan tertinggal saat orang lain kaya mendadak membuat logika sehat lumpuh. Manusia rela menjadi mangsa bagi predator pasar asalkan ada peluang (sekecil apa pun) untuk menjadi predator juga.