#Write2Earn #Crypto

Januari 2026 – Dunia dikejutkan oleh eskalasi ketegangan diplomatik yang tidak biasa. Apa yang dimulai sebagai retorika ambisius Presiden AS Donald Trump untuk "membeli" Greenland, kini telah berkembang menjadi krisis geopolitik yang mengancam stabilitas perdagangan transatlantik dan memicu volatilitas ekstrem di pasar keuangan.

​Ketegangan memuncak pada pertengahan Januari 2026 ketika Gedung Putih mengeluarkan ultimatum kepada Denmark dan delapan sekutu NATO lainnya (termasuk Jerman, Perancis, dan Inggris).

  • Ultimatum 25%: AS mengancam akan memberlakukan tarif impor sebesar 25% jika negosiasi mengenai "akuisisi total" Greenland tidak segera dimulai.

  • Respon Eropa: Uni Eropa secara tegas menolak, menyebut langkah ini sebagai pelanggaran kedaulatan dan "premanisme diplomatik."

​Meskipun dalam pidatonya di Davos pada 21 Januari 2026 Trump sempat melunakkan nada bicaranya dengan mengecualikan opsi militer, luka pada hubungan AS-Eropa sudah terlanjur menganga.

​Di bawah ini adalah ilustrasi peta geopolitik yang menggambarkan ketegangan antara AS dan Uni Eropa mengenai Greenland.

- Dampak Ekonomi Makro: Kebangkitan "Safe Haven"

​Ketidakpastian ini memicu pergeseran modal besar-besaran dari aset berisiko ke aset aman (safe haven).

  • Emas Cetak Rekor: Harga emas dunia meroket hingga sempat menyentuh US$4.887 per ons, didorong oleh ketakutan akan perang dagang skala besar yang bisa melumpuhkan rantai pasok global.

  • Tekanan pada Dolar: Uniknya, Dolar AS justru mengalami tekanan karena pasar khawatir akan "persenjataan finansial" yang dilakukan Washington, memicu beberapa negara Eropa untuk mulai mempertimbangkan pelepasan kepemilikan surat utang AS (Treasuries).

  • Stabilitas Minyak: Harga minyak sempat fluktuatif namun mulai stabil setelah Trump menyatakan akan lebih mengedepankan jalur diplomasi dibandingkan kekuatan fisik.

​- Pasar Kripto: "Emas Digital" yang Terbelah

​Pasar kripto mengalami fenomena menarik dalam krisis ini. Bitcoin (BTC), yang sering digadang-gadang sebagai digital gold, ternyata menunjukkan korelasi yang lebih kuat dengan indeks teknologi (Nasdaq) daripada emas fisik.

  • Penurunan Harga: Saat tensi memanas di pertengahan Januari, Bitcoin sempat merosot ke bawah level psikologis US$90.000, jatuh dari puncaknya karena investor melakukan aksi jual demi memegang uang tunai (cash) atau emas.

  • Sentimen Risk-Off: Penurunan ini membuktikan bahwa dalam guncangan geopolitik ekstrem, BTC masih dipandang sebagai aset berisiko tinggi. Namun, segera setelah Trump melunakkan ancaman tarif di Davos, pasar kripto menunjukkan rebound cepat, kembali menguji area US$93.000.

  • Ethereum & Altcoins: ETH dan koin lainnya mengalami tekanan lebih berat dengan penurunan lebih dari 5% dalam kurun waktu 24 jam saat puncak krisis, menunjukkan kerentanan ekosistem DeFi terhadap likuiditas global.

​- Proyeksi Kedepan: Navigasi di Tengah Ketidakpastian

​Krisis Greenland adalah pengingat bahwa di tahun 2026, kedaulatan wilayah, sumber daya alam (mineral kritis Arktik), dan politik tarif menjadi penggerak utama pasar.

Namun bagi investor, krisis ini menunjukkan bahwa diversifikasi aset tradisional (emas) tetap krusial, sementara kripto masih berjuang untuk membuktikan diri sebagai aset lindung nilai yang stabil di tengah konflik antar-negara.

$BTC $ETH $BNB

#WriteToEarnUpgrade

BNB
BNB
870.98
-0.91%
SOL
SOL
122.94
-2.55%
XRP
XRP
1.9062
+0.80%