Belum lama ini kata "Metaverse" menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat, menjanjikan revolusi dalam interaksi, perdagangan, dan hiburan digital. Dari perubahan nama Facebook menjadi Meta hingga perusahaan-perusahaan besar yang mengumumkan ruang virtual, metaverse tampak seperti hal besar berikutnya. Bersamaan dengan kegembiraan ini, token metaverse seperti MANA milik Decentraland, SAND milik The Sandbox, dan lainnya melonjak nilainya, mencerminkan minat besar investor terhadap dunia digital.
Namun, jika kita maju cepat ke tahun 2024, kehebohan seputar metaverse yang dulu menggemparkan itu telah memudar. Jadi, apa yang menyebabkan penurunan minat yang cepat ini, dan mengapa token metaverse kesulitan mempertahankan momentumnya?
Mimpi yang Berlebihan dan Janji yang Tak Terpenuhi
Metaverse dijual ke dunia sebagai utopia futuristik tempat pengguna dapat bekerja, bermain, bersosialisasi, dan berdagang dalam lingkungan virtual yang imersif. Namun, teknologi di balik dunia virtual ini masih dalam tahap awal. Siklus pengembangan yang lambat, pengalaman pengguna yang kikuk, dan skala infrastruktur yang sangat besar yang diperlukan untuk metaverse yang mulus telah membuat banyak pengadopsi awal kecewa.
Meskipun telah melakukan investasi awal yang besar, banyak platform metaverse yang kesulitan untuk menarik basis pengguna yang besar dan konsisten. Tanpa proposisi nilai yang jelas bagi pengguna sehari-hari, hal baru dari real estat virtual dan avatar digital dengan cepat memudar. Janji ambisius tentang dunia yang terintegrasi penuh dan terdesentralisasi belum terwujud, sehingga menyisakan kekosongan harapan.
Jatuhnya Token Metaverse
Seiring meredanya kehebohan seputar metaverse, harga token terkait metaverse pun ikut menurun. MANA, SAND, dan token serupa lainnya yang pernah melambung tinggi telah mengalami penurunan nilai yang signifikan, yang mencerminkan menurunnya kepercayaan investor. Token-token tersebut awalnya dilihat sebagai aset spekulatif, yang didorong oleh janji-janji masa depan, bukan utilitas langsung. Seiring dengan menurunnya keterlibatan pengguna dan platform metaverse, gelembung spekulatif mulai mengempis.
Terlebih lagi, pasar kripto yang sedang lesu pada tahun 2023 semakin mempercepat penurunan ini. Dengan pasar mata uang kripto yang lebih luas yang sedang berjuang, investasi spekulatif seperti token metaverse menjadi salah satu yang paling terpukul, karena investor mengalihkan fokus mereka ke aset digital yang lebih stabil dan terbukti.
Perubahan Fokus: AI dan Kasus Penggunaan di Dunia Nyata
Di dunia teknologi, perhatian adalah sumber daya yang terbatas, dan kini perhatian telah beralih dari metaverse ke teknologi baru lainnya—yaitu, kecerdasan buatan (AI) dan aplikasi blockchain dengan kasus penggunaan dunia nyata yang lebih nyata. Kemajuan pesat dalam AI, seperti ChatGPT dan model generatif lainnya, telah menarik perhatian publik dengan cara yang belum dapat dilakukan oleh metaverse.
Investor dan perusahaan teknologi kini berfokus pada teknologi yang memberikan dampak langsung, yang menyebabkan menurunnya investasi terkait metaverse. Meskipun visi dunia digital yang saling terhubung tetap ada, jelas bahwa infrastruktur dan permintaan masih memerlukan waktu beberapa tahun lagi untuk memenuhi harapan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya pada Metaverse?
Apakah ini berarti metaverse sudah mati? Belum tentu. Para pemain besar seperti Meta, Microsoft, dan Roblox masih terus mendorong inisiatif dunia virtual mereka, meskipun dengan harapan yang lebih realistis. Konsep metaverse mungkin berkembang menjadi sesuatu yang berbeda dari yang awalnya dibayangkan, dan konvergensi AR, VR, blockchain, dan AI pada akhirnya masih dapat menghadirkan dunia imersif yang dibayangkan oleh para pelopor awal.
Namun, untuk token metaverse, jalan ke depan akan penuh tantangan. Tanpa adopsi platform dan keterlibatan pengguna yang meluas, nilainya kemungkinan akan tetap rendah. Gelombang kegembiraan berikutnya mungkin tidak datang dari sensasi spekulatif, tetapi dari terobosan teknologi nyata dan kasus penggunaan praktis yang melibatkan pengguna di luar hal-hal baru.
---
Kesimpulan Meskipun kehebohan metaverse mungkin telah mereda, bukan berarti mimpinya telah berakhir. Seperti banyak teknologi baru lainnya, metaverse mengalami kesulitan karena ekspektasi yang terlalu tinggi dan penyampaian yang kurang memuaskan. Masa depan dunia virtual yang sebenarnya mungkin masih ada, tetapi untuk saat ini, perhatian dunia telah beralih ke tempat lain.
---