Kekusutan Kobalt: Kekayaan dalam Kemiskinan👇
Republik Demokratik Kongo, sebuah negara yang diberkati dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, justru terjebak dalam kemiskinan. Sebagai pemasok kobalt terbesar di dunia, yang menyumbang lebih dari 70% dari produksi global, orang mungkin berharap kekayaannya dapat diterjemahkan menjadi kemakmuran bagi warganya. Sebaliknya, rakyat Kongo terus berjuang dengan beberapa kondisi kehidupan terberat di planet ini. Kontras mencolok antara kekayaan sumber daya dan kemiskinan ekonomi ini menimbulkan pertanyaan kritis tentang eksploitasi sumber daya, pemerintahan, dan biaya nyata dari kemajuan.
Kobalt yang menyuplai dunia modern kita—yang menggerakkan smartphone, laptop, dan kendaraan listrik—datang dengan biaya manusia dan lingkungan yang tinggi di DRC. Penambangan artisanal, yang menyumbang bagian signifikan dari produksi kobalt, dipenuhi dengan bahaya, mulai dari kondisi kerja yang berbahaya hingga pekerja anak. Sementara itu, pendapatan yang dihasilkan dari sumber daya ini seringkali tidak menguntungkan populasi lokal, melainkan mengalir ke kantong pejabat korup dan perusahaan multinasional. Tanpa reformasi yang berarti, kekayaan kobalt DRC akan terus mendukung inovasi global sementara meninggalkan rakyatnya dalam bayang-bayang kemiskinan.
3424748118538746106853
78001216425

97962372551 #SustainableDevelopment 56585701596
17780744315