Pada 21/5, Departemen Kehakiman AS secara resmi mendakwa Jeremy Jordan-Jones, pendiri Amalgam Capital Ventures, atas serangkaian tuduhan serius: penipuan transfer uang, penipuan sekuritas, pemalsuan bank, dan pencurian identitas.

🚨 Startup “virtual”, uang nyata, konsekuensi berat

Di balik kedok perusahaan blockchain yang menawarkan solusi POS dan keamanan, Jordan-Jones dituduh telah menciptakan cerita kolaborasi palsu, memalsukan laporan bank, dan melebih-lebihkan keuangan untuk menggelapkan dana investasi.

Alih-alih mengembangkan teknologi, dia menggunakan uang untuk membeli mobil mewah, berlibur, pakaian bermerek, dan pengeluaran mewah di Miami. Indictment menunjukkan bahwa perusahaan tidak memiliki pelanggan nyata, tidak ada produk nyata, hanya… janji-janji palsu.

Jika terbukti bersalah, Jeremy Jordan-Jones bisa menghadapi hukuman penjara hingga 30 tahun beserta penyitaan aset yang diperoleh secara curang.

🔍 Analisis cepat: Investor perlu lebih waspada

• Blockchain tidak kebal terhadap penipuan. Teknologi hanya alat — penjahat masih bisa memanfaatkan jika tidak ada hukum yang jelas.

• Tahap penggalangan dana mudah dimanipulasi. Kurangnya audit, kurangnya transparansi, tetapi mengumpulkan dana jutaan dolar — model ini bisa menjadi “alat penipuan yang sah”.

• Jangan percaya pada buzzword. Web3, token, AI… hanya kata kunci – lihat apakah produk itu nyata, apakah pelanggan menggunakannya, dan apakah pendapatannya transparan.

• Aturan hukum semakin ketat. Kasus semacam ini akan mendorong pemerintah AS untuk bertindak lebih tegas terhadap industri blockchain/web3.

⚠️ Jangan terjebak dalam gelombang hype

❗ Harap waspada, verifikasi secara menyeluruh, dan minta transparansi sebelum menginvestasikan uang ke proyek Web3 mana pun. Pasar sedang berkembang — tetapi juga penuh jebakan.

🧠 Apa pendapat Anda tentang kasus ini? Berapa banyak proyek blockchain “membusuk” yang belum terungkap?

💬 Tinggalkan komentar di bawah!

🔁 Bagikan artikel ini untuk memperingatkan komunitas Web3!

#DolugCrypto