Musk Mengakhiri 'Revolusi Pemerintah' Dalam 130 Hari! Kontroversi Di Balik Pemangkasan 130 Miliar
Pada 29 Mei 2025, Elon Musk mengumumkan berakhirnya masa jabatan 'Pejabat Efisiensi' pemerintah Trump selama 130 hari. Reformasi yang dikenal sebagai 'revolusi efisiensi' ini, yang merombak pemerintah AS dengan cara-cara korporat, meskipun memangkas pengeluaran sebesar 130 miliar dolar, namun harus berakhir dalam ketidakpastian karena banyaknya kontroversi.
I. Penunjukan Khusus Menimbulkan Keraguan
Pada tahun 2024, Trump membentuk Kementerian Efisiensi Pemerintah (DOGE), Musk diberi wewenang sebagai 'pegawai pemerintah khusus' untuk meninjau anggaran dan merombak lembaga. Meskipun Gedung Putih menyebutnya hanya sebagai penasihat, Musk sebenarnya memimpin pemecatan, menutup departemen, bahkan melewati presiden untuk langsung mengeluarkan perintah melalui platform X. Di bawahnya, SpaceX memegang kontrak pemerintah senilai 22 miliar dolar, Tesla sedang menghadapi penyelidikan regulasi, dan motivasi reformasi ini dipertanyakan.
II. Tiga Langkah Mengguncang Politik
Musk menerapkan pemikiran manajemen perusahaan ke dalam pemerintah: menutup tiga lembaga besar seperti Badan Pembangunan Internasional AS, memecat 13.900 orang, menghemat lebih dari 30 miliar dolar per tahun; meluncurkan 'Program Pensiun Pegawai Negeri', dengan memberikan kompensasi 8 bulan untuk mendorong 2 juta pegawai untuk pensiun, yang menyebabkan ketidakpuasan di kalangan pegawai; menggunakan AI untuk menemukan 'celah' dalam sistem jaminan sosial senilai 365 miliar dolar, tetapi kontroversi privasi data terus berlanjut.
III. Dampak Dua Arah Sulit Dinilai
Di satu sisi, dalam 130 hari memangkas 130 miliar pengeluaran, angka defisit menurun drastis, Trump bahkan berencana menggunakan dana yang dihemat untuk memberikan pengembalian pajak sebesar 5.000 dolar kepada rumah tangga; kaum konservatif mendukung Musk sebagai 'pahlawan anti-birokrasi', membantu meningkatkan popularitas Trump. Di sisi lain, penutupan lembaga bantuan internasional menuai kecaman internasional, kualitas layanan dasar menurun, kontroversi keamanan data sering muncul, dan legalitas reformasi juga sering ditantang. 'Reformasi ala Musk' ini akhirnya menjadi catatan kontroversial dalam politik Washington.