Konflik Israel-Iran pada tahun 2025 tetap menjadi titik panas yang kritis di Timur Tengah, ditandai oleh meningkatnya ketegangan dan ketidakstabilan regional. Meskipun ada upaya diplomatik, kedua negara terus terlibat dalam perang proksi, serangan siber, dan konfrontasi militer langsung. Program nuklir Iran tetap menjadi isu yang kontroversial, dengan Israel mengulangi sikapnya menentang ancaman nuklir yang potensial.

Bulan-bulan terakhir telah menyaksikan peningkatan serangan udara yang menargetkan milisi yang didukung Iran di Suriah dan Lebanon, sementara Iran diduga mendukung serangan terhadap kepentingan Israel di luar negeri. Perang bayangan telah meluas ke dunia siber, dengan kedua belah pihak saling menuduh melakukan serangan yang mengganggu infrastruktur.

Para aktor internasional, termasuk AS dan UE, telah menyerukan de-eskalasi, tetapi ketidakpercayaan timbal balik antara Israel dan Iran memperumit negosiasi. Sekutu regional, seperti Arab Saudi dan UEA, dengan hati-hati menavigasi situasi ini, menyeimbangkan hubungan dengan kekuatan Barat dan stabilitas regional.

Biaya kemanusiaan meningkat saat konflik meluas ke negara-negara tetangga, memindahkan warga sipil dan membebani sumber daya. Tanpa dialog yang berkelanjutan atau mediasi pihak ketiga, risiko perang regional yang lebih luas tetap ada. Dunia mengawasi dengan seksama, berharap untuk resolusi damai, tetapi jalan ke depan tetap tidak pasti saat kedua negara memprioritaskan keamanan di atas kompromi.

$BTC