Dalam sebuah perubahan mengejutkan, Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa telah membuat berita dengan pernyataan berani yang dapat mengubah geopolitik Timur Tengah: “Israel bukan musuh kami.” 🕊️ Deklarasi luar biasa ini, dilaporkan secara luas di platform seperti X, menandakan potensi pencairan dalam permusuhan yang telah berlangsung puluhan tahun antara Suriah dan Israel, dua negara yang secara historis terlibat dalam konflik. 😮

Bab Baru untuk Hubungan Suriah-Israel? 📜

Berbicara dalam pertemuan dengan delegasi Amerika pada April 2025, al-Sharaa, yang sebelumnya dikenal sebagai Abu Mohammed al-Golani, pemimpin kelompok pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS), menyatakan keterbukaan untuk bekerja sama dengan Israel dalam masalah keamanan. “Realitanya adalah bahwa kami memiliki musuh bersama,” katanya, merujuk pada kekhawatiran bersama tentang Iran dan proksinya, seperti Hezbollah. 🛡️ Komentar-komentarnya, yang diterbitkan di Jewish Journal, menandai pergeseran dramatis dari sikap tradisional Suriah di bawah rezim Assad, yang merupakan sekutu setia Iran dan pemain kunci dalam apa yang disebut Poros Perlawanan terhadap Israel.

Pernyataan al-Sharaa muncul setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024, sebuah peristiwa seismik yang mengakhiri kekuasaan keluarga Assad selama lima dekade. 🏰💥 Kepemimpinan Suriah yang baru, di bawah al-Sharaa, telah vokal tentang menjauhkan diri dari pengaruh Iran, dengan presiden berjanji untuk tidak membiarkan tanah Suriah digunakan untuk serangan terhadap Israel. Pergeseran ini sejalan dengan penataan ulang regional yang lebih luas, saat Suriah berusaha untuk membangun kembali dan reintegrasi ke dalam komunitas internasional. 🌐

Seruan untuk Perdamaian di Tengah Ketegangan yang Berlangsung 🕊️⚡

Pernyataan al-Sharaa tidak tanpa konteks. Sejak penggulingan Assad, Israel telah melakukan banyak serangan udara terhadap target militer Suriah, mengutip kebutuhan untuk mencegah senjata jatuh ke tangan kelompok ekstremis. 💣 Al-Sharaa telah mendesak Israel untuk menghentikan serangan ini, menekankan, “Era pemboman balas dendam yang tiada henti harus berakhir. Tidak ada negara yang makmur ketika langitnya dipenuhi dengan ketakutan.” 😟 Dia juga telah mengungkapkan keinginan untuk menghidupkan kembali Perjanjian Pemisahan 1974, yang menetapkan zona penyangga yang dipantau PBB di Dataran Tinggi Golan, dan untuk melihat pasukan Israel mundur dari area yang baru saja diduduki.

Keterbukaan presiden Suriah untuk dialog telah dikumandangkan oleh pejabat lainnya. Maher Marwan, gubernur Damaskus, mengatakan kepada NPR pada Desember 2024, “Kami tidak memiliki ketakutan terhadap Israel, dan masalah kami bukan dengan Israel. Kami mencari perdamaian dan tidak bisa menjadi lawan bagi siapa pun.” 🗣️ Sentimen ini mencerminkan dorongan yang lebih luas untuk stabilitas di Suriah yang lelah perang, di mana rekonstruksi dan hidup berdampingan kini menjadi prioritas utama.

Reaksi Campuran dan Implikasi Regional 🤔🌏

Pengumuman tersebut telah memicu gelombang reaksi di seluruh dunia Arab dan sekitarnya. Beberapa komentator memuji pendekatan pragmatis al-Sharaa, menganggapnya sebagai langkah menuju stabilitas regional. Lainnya, terutama pendukung Poros Perlawanan Iran, mengkritik pernyataan tersebut sebagai pengkhianatan terhadap sentimen anti-Israel yang telah lama ada. 😡 Unggahan di X mencerminkan perpecahan ini, dengan beberapa pengguna menyambut potensi perdamaian, sementara yang lain mengekspresikan skeptisisme tentang niat Suriah.

Para analis menyarankan bahwa sikap al-Sharaa mungkin merupakan langkah strategis untuk mendapatkan dukungan dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, yang telah memfasilitasi pembicaraan tidak langsung antara Suriah dan Israel. AS secara terbuka menyerukan Suriah untuk bergabung dengan Abraham Accords, meskipun al-Sharaa telah menunjukkan bahwa normalisasi penuh tidak akan segera terjadi. 🖐️ “Kami kurang mungkin mendengar tentang Abraham Accords dalam jangka pendek dan lebih mungkin mendengar tentang pengurangan konflik,” kata Rabbi Abraham Cooper, yang bertemu al-Sharaa di Damaskus.


Namun, tantangan tetap ada. Israel telah mempertahankan sikap berhati-hati, dengan pejabat seperti Wakil Menteri Luar Negeri Sharren Haskel menyebut pemimpin baru Suriah sebagai "serigala berbulu domba" karena hubungan masa lalu HTS dengan al-Qaeda. 🇮🇱 Sementara itu, pendudukan Israel atas Dataran Tinggi Golan dan serangan militer baru-baru ini ke wilayah Suriah terus memicu ketegangan.

Jalur Menuju Perdamaian atau Strategi Taktis? 🛤️

Sementara kata-kata al-Sharaa menunjukkan harapan untuk era baru, para ahli mempertanyakan apakah ini benar-benar perubahan strategis yang tulus atau manuver taktis untuk mengamankan posisi Suriah di tengah melemahnya Iran dan pergeseran keseimbangan kekuasaan regional. 🌍 “Sepertinya ada pemahaman yang terbentuk di tingkat keamanan, tetapi di tingkat politik, kami belum melihat gestur besar,” catat Mohanad Hage Ali dari Carnegie Middle East Center.#SyriaIsrael

Untuk saat ini, dunia menyaksikan saat Suriah dan Israel menavigasi momen tanpa preseden ini. Apakah ini bisa menjadi awal rekonsiliasi bersejarah, atau sekadar jeda sementara dalam konflik yang telah lama berlangsung? Hanya waktu yang akan menentukan. ⏳$BNB

BNB
BNB
624.36
+3.36%



#SyriaIsrael #MiddleEastPeace #AhmedAlSharaa #Geopolitics #BreakingNews