Ketegangan Tarif Kembali Memanas: Pembicaraan AS–Cina Dilanjutkan di Stockholm di Tengah Guncangan Perdagangan Global

Saat dunia semakin mendekati tenggat waktu tarif 1 Agustus, semua mata tertuju pada Stockholm di mana pembicaraan ekonomi berisiko tinggi antara Amerika Serikat dan Cina akan dilanjutkan. Dari 27 hingga 30 Juli, Wakil Perdana Menteri Cina He Lifeng akan memimpin negosiasi dengan rekan-rekan dari AS dalam apa yang disebut sebagai Pembicaraan Tarif Cina-AS Kedua—momen yang berpotensi penting bagi perdagangan global.

Diskusi yang diperbarui ini datang setelah percepatan negosiasi perdagangan AS dengan beberapa negara Asia. Dalam beberapa minggu terakhir, AS telah menyelesaikan perjanjian perdagangan baru dengan Jepang, Indonesia, Filipina, dan Vietnam, mencerminkan pergeseran strategis dalam kebijakan Amerika untuk mendiversifikasi aliansi ekonomi globalnya.

Namun, suasananya tetap tegang.

Pada 23 Juli, mantan Presiden Donald Trump kembali membuat berita dengan mengancam untuk memberlakukan tarif besar-besaran berkisar antara 15% hingga 50% pada "kebanyakan negara lain di dunia"—langkah yang dapat memicu dampak ekonomi yang luas di berbagai sektor, dari teknologi hingga pertanian dan energi.

Peningkatan ini terjadi pada saat pasar global sudah berjuang dengan tekanan inflasi dan gangguan rantai pasokan. Banyak analis memperingatkan bahwa tanpa kemajuan berarti selama pembicaraan yang akan datang, baik AS maupun Cina berisiko terjerumus ke dalam kebuntuan ekonomi yang lebih dalam yang dapat meluas ke wilayah resesi global.

Apakah putaran negosiasi ini akan meredakan perang tarif yang mengancam, atau apakah dunia bersiap menghadapi gelombang ketidakpastian ekonomi yang baru? Jawabannya mungkin mulai terungkap di Stockholm.

Bergabunglah dalam percakapan:

Apa pendapat Anda tentang ancaman tarif Trump dan negosiasi AS–Cina? Bisakah ini menjadi titik balik bagi perdagangan global atau awal dari konflik yang lebih besar?