—Mami… saya tidak ingin kamu bekerja. Hampir tidak melihatmu. 😥

—Ketika kamu pergi… saya tetap tidur.

Dan ketika kamu kembali… saya sudah tidur lagi.

Di hari liburmu…

saya tidak punya tenaga untuk bermain bersamamu.

Saya rasa pekerjaan itu mencuri.

Mencuri tawamu.

Mencuri waktumu.

Kadang… saya bahkan merasa marah pada pekerjaan itu.

Karena itu mengambil darimu…

semuanya.

Ibu menelan ludah.

Jiwanya jatuh ke tanah.

Ia ingin menjelaskan… tetapi suaranya bergetar.

—Anakku…

saya bekerja agar tidak ada yang kurang untukmu.

Agar kamu punya makanan, pakaian, sekolah…

agar kamu punya masa depan.

Anak itu menatapnya dengan mata yang hanya dimiliki anak-anak:

mata yang dapat meluluhkan,

yang bertanya tanpa berbicara,

yang mengatakan segalanya… tanpa mengetahuinya.

—Saya hanya ingin memiliki kamu dekat.

Tidak peduli apakah ada sup atau kue kering…

jika kamu bersamaku, saya bahagia.

Dan kemudian dia memahaminya.

Dia tidak mengatakannya dengan kata-kata.

Tapi dia merasakannya dengan seluruh tubuhnya:

💔 Dia sedang kehilangan anaknya… sementara berusaha memberikan segalanya.

Dan dia… hanya ingin ibunya.

Keesokan harinya dia tidak pergi bekerja.

Begitu juga hari berikutnya.

Dia mencari, berjuang, berubah.

Karena seorang ibu yang mencintai… menemukan jalan keluar di tempat lain melihat pintu tertutup.

Hari ini mereka memiliki lebih sedikit kemewahan…

tetapi lebih banyak pelukan.

Lebih sedikit mainan…

tetapi lebih banyak tawa.

✨ Untuk semua wanita yang juga merupakan ayah.

Yang bangkit tanpa semangat, tetapi dengan cinta.

Yang terbelah menjadi seribu, tetapi tidak berhenti memberi.

Hormati saya selamanya.

Jika kamu memiliki ibu seperti itu…

berikan penghormatan hari ini.

Karena ada pengorbanan yang tidak dilihat oleh siapa pun…

tetapi yang memberi kamu segalanya yang kamu miliki.

❤️ Terima kasih, ibu.

#MarketPullback