(Menjadi cahaya dari hati, mengalir menjadi lautan)
Banyak ketakutan orang berasal dari kebingungan arah hidup—gelisah dalam pilihan terus-menerus, terus menunggu kekayaan tiba secara tiba-tiba. Padahal di zaman ini, yang paling berharga adalah memilih satu arah besar, menjadikannya sebagai lampu penerang jalan, sehingga tak perlu lagi bimbang.
Ini selalu mengingatkan saya pada para pendahulu revolusi, mengapa mereka bisa melupakan rasa takut dan berani mati? Hanya karena harapan yang membara: 'Kami yang hidup di zaman ini menyelesaikan perang, generasi mendatang tidak perlu lagi berperang, mereka bisa menikmati zaman damai dan makmur.' Kita lahir di zaman damai, bersyukur atas perlindungan para pendahulu, namun juga menyadari bahwa dalam sejarah panjang, 'perang' tak pernah benar-benar lenyap. Selain perang senjata dingin dan panas, ada perang virus, perang budaya, perang ekonomi, perang mata uang, perang AI, bahkan perang mesin yang belum tiba—semuanya pada dasarnya adalah permainan ambisi manusia, arena kompetisi peradaban manusia.
Tidak membahas masa lalu, tidak khawatir tentang masa depan, seharusnya memberikan setiap orang biasa sepetak tanah yang bersih, bukan? Kekuatan yang terpisah tidak dapat membentuk situasi, hanya dengan mengalir menjadi lautan, membangun bersama adalah mungkin—membiarkan arus menghasilkan nilai yang sebenarnya, membuat waktu yang terbatas memuat impian yang tak terbatas. Kita menjalani saat ini dengan serius, lebih penting lagi kita harus bersatu dengan semua kekuatan yang menuju kebaikan, untuk membangun sebuah negara yang akan membuat seluruh dunia iri. Ini bukan prestasi sesaat, tetapi komitmen seumur hidup, adalah harapan seumur hidup, tetapi saya yakin, hari itu pada akhirnya akan datang.
🤔Saya sering berpikir, membangun suatu sistem bisnis: di dalam aturan, tetapi tidak terikat oleh aturan, sebaliknya dapat dilindungi dengan lembut oleh aturan? Membuat setiap orang dapat memicu nilai pasif, berkumpul menjadi lautan untuk berbagi hasil (siapa yang akan menjadi orang yang melepaskan layang-layang?); menghubungkan satu sama lain dengan berbagi, saling menguntungkan dan hidup berdampingan, sehingga semua kebutuhan dapat terpenuhi, sementara kita hanyalah pengurus yang setia (siapa yang akan menjadi benang yang menarik?); dengan satu titik membawa bidang, memanfaatkan efek pemimpin, membuat yang kaya lebih kaya, menghubungkan segalanya dengan “satu benda” (dengan cara apa, melepaskan layang-layang yang indah ini?).
Antara manusia, antara hal-hal, pada akhirnya harus menemukan lampu terang yang menunjukkan arah, menemukan posisi hati sendiri. Siapa yang menjadi layang-layang? Siapa yang menjadi benangnya? Siapa yang melepaskan layang-layang? Haha, sebenarnya semua orang adalah, tidak ada yang bukan. Seperti yang dikatakan oleh Tao: seumur hidup ada berbagai fenomena, semua hal kembali pada hati.
