Kita mendengar banyak tentang kesuksesan Jesse Livermore, salah satu jenius investasi saham sepanjang masa. Namun jarang yang mengetahui tentang kesalahan-kesalahan yang ia buat.
Sehingga hidupnya adalah sebuah tragedi.
Berikut adalah kesalahan-kesalahan Jesse Livermore yang telah kita rangkum dan usahakan untuk tidak mengulanginya.
1. Tidak mematuhi disiplin diri sendiri
• Meskipun ia terkenal dengan prinsip “potong kerugian dengan cepat, biarkan keuntungan berjalan”, namun sering kali ia sendiri tidak dapat melakukannya.
• Ada kalanya dia mempertahankan posisi rugi terlalu lama karena berharap harga akan kembali → membuat kerugian kecil menjadi bencana.
2. Perdagangan berlebihan (Overtrading)
• Livermore pernah memperingatkan orang lain untuk tidak berdagang secara terus-menerus, tetapi dia terjebak dalam perangkap ini.
• Ketika menang besar, dia sering bersemangat dan meningkatkan volume terlalu tinggi, yang mengarah pada kehilangan kontrol risiko.
3. Tidak melindungi modal setelah menang besar
• Setelah kemenangan besar pada tahun 1929 (menghasilkan sekitar 100 juta USD, setara dengan lebih dari 1,5 miliar USD saat ini), dia tidak menarik modal untuk melindungi diri tetapi terus mengambil risiko.
• Hal ini menyebabkan harta yang besar menguap secara perlahan karena investasi dan spekulasi setelahnya tidak berhasil.
4. Ilusi tentang kemampuan “membaca pasar”
• Livermore pernah berkata “Tidak ada yang baru di Wall Street”, tetapi dia terlalu percaya pada kemampuan prediksinya sendiri.
• Ada periode di mana dia mempertaruhkan segalanya pada “perasaan tren”, tetapi pasar tidak bergerak seperti yang diprediksi → menyebabkan kebangkrutan.
5. Dampak emosi pribadi
• Livermore memiliki kehidupan pribadi yang penuh peristiwa: pernikahan yang retak, konflik keluarga.
• Ketegangan ini membuatnya kehilangan keseimbangan psikologis, yang mengarah pada keputusan perdagangan yang tidak rasional.
6. Tidak memisahkan antara “spekulasi” dan “perjudian”
• Prinsip yang dia tinggalkan cenderung pada spekulasi yang terukur.
• Tetapi ketika disiplin runtuh, dia terjebak dalam keadaan perjudian – berisiko, mempertaruhkan terlalu banyak, berharap pada keberuntungan daripada analisis.
7. Tidak mempersiapkan untuk kegagalan
• Dia percaya bahwa dia akan selalu menemukan cara untuk kembali ke pasar.
• Tetapi seiring bertambahnya usia, tekanan finansial dan psikologis meningkat, dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk bangkit setelah satu kali kegagalan lagi → mengakhiri hidupnya dengan tragedi.
