Ketika berbicara tentang likuidasi di pasar kripto, yang sering dibahas adalah penutupan paksa posisi pada kontrak berjangka permanen (perpetual futures, perps). Kontrak semacam ini memungkinkan pembukaan transaksi dengan menggunakan dana pinjaman (leverage), tanpa perlu membeli cryptocurrency secara langsung dan tanpa batasan waktu. Berkat likuiditas yang tinggi, tidak adanya tanggal kedaluwarsa, dan kemampuan untuk berdagang dengan leverage hingga 100x, 'perps' telah menjadi derivatif paling populer di pasar kripto.
Leverage memungkinkan untuk membuka posisi dengan jumlah yang jauh melebihi modal sendiri. Misalnya, dengan leverage 10x, cukup menyetor $10 ribu untuk memperbesar posisi terbuka menjadi $100 ribu. Posisi dijamin dengan jaminan berupa dana sendiri trader di akun. Jika harga bergerak melawan posisi, kerugian secara bertahap mengurangi jaminan ini. Ketika ukuran jaminan menjadi terlalu kecil, bursa secara otomatis melikuidasi posisi untuk menghindari kerugian sendiri.
Ambang likuidasi tergantung pada besarnya leverage: semakin tinggi, semakin kecil pergerakan harga yang dapat menyebabkan penutupan paksa. Dengan leverage 10x, cukup penurunan harga sebesar 10% agar posisi dilikuidasi, dengan leverage 50x — hanya 2%. Ketika harga turun, posisi dengan leverage tinggi mulai dilikuidasi secara massal, meningkatkan tekanan pada pasar. Ini memicu reaksi berantai, di mana satu likuidasi menarik likuidasi berikutnya.
