Sementara penipu lainnya bermain kartu atau memalsukan cek, George Parker berburu besar-besaran. Dia menjual Jembatan Brooklyn. Dan bukan hanya sekali, tetapi menurut legenda — dua kali seminggu selama beberapa tahun. Pada awal abad ke-20, Jembatan Brooklyn adalah keajaiban dunia yang sebenarnya, simbol kekuatan rekayasa dan impian Amerika. Itulah yang dimainkan oleh penipu paling berani dalam sejarah kota. Target audiens Parker adalah imigran baru yang baru saja turun ke pantai dari Pulau Ellis. Mereka bingung, tidak terlalu memahami bahasa, tetapi sangat yakin bahwa di Amerika, uang dapat membeli segalanya. Parker mendekati mereka sebagai "pengusaha sukses" yang konon memenangkan tender pembangunan, tetapi sekarang tidak memiliki waktu untuk mengelola proyek. Dia menawarkan kesepakatan yang luar biasa: membeli hak atas jembatan dan mendirikan titik-titik pembayaran (gerbang). Logikanya sangat sederhana: ribuan orang melewati jembatan setiap hari; jika memungut 5 sen dari setiap orang, investasi akan terbayar dalam sebulan.
Parker adalah ahli detail. Ia membuka kantor properti palsu dengan papan nama yang meyakinkan, memiliki tumpukan dokumen 'resmi' dengan cap segel resmi. Harga jembatan bervariasi tergantung berapa banyak uang yang dimiliki korban—dari 50 dolar hingga 50.000 dolar. Ia begitu meyakinkan sehingga polisi New York harus secara rutin datang ke Jembatan Brooklyn untuk menghentikan secara paksa para 'pemilik' baru yang sudah mulai membangun kios pengumpul uang di sana dan meminta pembayaran dari para pejalan kaki yang terkejut.
Ale hasrat Parker tidak terbatas pada jembatan. Dalam portofolionya terdapat penjualan Museum Metropolitan, makam Jenderal Grant, bahkan Patung Liberty. Suatu kali ia hampir menjual patung tersebut kepada seorang pengusaha, meyakinkan bahwa Lady Liberty mengganggu perluasan pelabuhan, dan pemerintah bersedia menyerahkannya sebagai barang bekas logam. Akhirnya George tertangkap dan dijatuhi hukuman seumur hidup di penjara Sing-Sing. Di sana ia menjadi tokoh terkenal: narapidana dan penjaga penjara sangat mengagumi mendengarkan kisah-kisahnya, dan ia sendiri merasa hingga akhir hayatnya bukan sebagai pelaku kejahatan, tetapi sebagai penjual sukses yang hanya menemukan celah bebas di pasar.



