Bagaimana serangan militer AS di Venezuela memengaruhi pasar Crypto.

Per 3 Januari 2026, serangan militer AS di Venezuela dan laporan penangkapan Presiden Nicolás Maduro memperkenalkan ketidakpastian geopolitik yang signifikan, yang kemungkinan akan memengaruhi harga cryptocurrency baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berdasarkan data pasar waktu nyata, analisis ahli, dan sentimen media sosial, berikut adalah rincian potensi dampaknya. Pasar Crypto sangat volatil dan reaktif terhadap berita, terutama selama akhir pekan ketika pasar tradisional ditutup, menjadikannya saluran utama untuk penyesuaian risiko.

Volatilitas Segera dan Tekanan Risiko Off

Tekanan Turun pada Harga: Peningkatan ini memicu sentimen "risiko off", di mana investor menghindari aset volatil seperti cryptocurrency demi opsi yang lebih aman (misalnya USD, emas). Crypto, sebagai satu-satunya pasar besar yang buka 24/7, menyerap penjualan panik awal dari kejadian global seperti ini. Bitcoin (BTC) telah turun dari hampir $91,000 pada akhir 2 Januari menjadi sekitar $89,500–$89,700 awal 3 Januari, penurunan sekitar 1-2% dalam beberapa jam. Ethereum (ETH) dan altcoin lainnya telah melihat penarikan serupa, dengan total kapitalisasi pasar menyusut sedikit. Para analis membandingkan ini dengan guncangan geopolitik masa lalu (misalnya, konflik Rusia Ukraina), di mana crypto awalnya turun sebelum bangkit kembali.

Peningkatan Volatilitas: Harapkan fluktuasi tajam saat berita berkembang. Indeks volatilitas seperti yang diimplikasikan dalam opsi crypto sedang meningkat, dengan potensi pergerakan 5-10% dalam BTC jika konflik meningkat (misalnya melibatkan sekutu seperti Iran atau China, pembeli minyak kunci dari Venezuela). Koin meme dan altcoin berisiko tinggi bisa menghadapi kerugian yang lebih curam, sementara stablecoin seperti USDT melihat lonjakan volume untuk likuiditas.

#venezuela #RiskAlert