Dunia sedang menyaksikan pergeseran dramatis dalam geopolitik menyusul penangkapan dan penuntutan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pihak berwenang Amerika Serikat. Langkah ini telah memicu gelombang protes dan ketegangan diplomatik di seluruh dunia.

Maduro Mengaku "Tidak Bersalah" di Pengadilan AS

Dalam sebuah adegan yang telah mengejutkan komunitas internasional, Presiden Venezuela Nicolás Maduro muncul di pengadilan AS terikat dengan rantai dan borgol. Jaksa federal telah mengajukan tuduhan berat terhadapnya, termasuk narkoterrorisme, penyelundupan senjata, dan perdagangan narkoba.

Maduro dengan tegas menolak semua tuduhan, menyatakan, "Saya masih Presiden Venezuela dan seorang pria beradab. Saya diculik dari rumah saya." Istri nya, Cilia Flores, menolak tuduhan tersebut sebagai murni politis. Hakim telah menetapkan sidang berikutnya pada 17 Januari.

Presiden Trump dan Peringatan Regional tentang Greenland

Presiden AS Donald Trump telah menandakan bahwa tindakan di Venezuela hanyalah permulaan. Ia menegaskan kembali minatnya yang "serius" terhadap Greenland, memperingatkan negara-negara Amerika Latin bahwa ketidakstabilan tidak akan ditoleransi. Setelah penggulingan Maduro, Trump dilaporkan mengenakan topi "Buat Iran Hebat Kembali", menandakan kemungkinan pergeseran fokus menuju Teheran.

Respons Internasional dan Sikap Pakistan

Komunitas global terbagi tajam mengenai legalitas operasi Amerika Serikat:

PBB & Pakistan: Perwakilan tetap Pakistan di PBB, Usman Jadoon, menyatakan "kekhawatiran mendalam", menekankan bahwa tindakan militer sepihak melanggar Piagam PBB dan mengancam perdamaian internasional.

Rusia & Cina: Rusia mengecam langkah ini sebagai pelanggaran hukum internasional. Cina menyerukan pembebasan segera terhadap Maduro dan menyeru AS untuk menghormati kerangka hukum global.

Turki: Presiden Tayyip Erdoğan memperingatkan agar tidak menciptakan ketidakstabilan lebih lanjut di kawasan, menyerukan pendekatan yang lebih seimbang.

Kepemimpinan Baru di Venezuela

Menyusul kekosongan kekuasaan, Wakil Presiden Delcy Rodríguez telah mengambil sumpah sebagai Presiden Interim. Dalam pidatonya pertama, ia mengundang pemerintah AS untuk menjalin "agenda kerja sama" berdasarkan saling menghargai, meskipun putra Maduro menegaskan bahwa negara ini tetap berada dalam "tangan yang aman."

Highlight Nasional & Regional

Upaya lobbying Modi: Laporan menyebut pemerintah India membayar firma lobbying sebesar 800.000 dolar AS setiap tahun untuk mendapatkan simpati Presiden Trump. Meskipun upaya tersebut, pejabat India dilaporkan kesulitan mendapatkan pertemuan dengan anggota kabinet utama AS.

Krisis Pajak Pakistan: Data terbaru menunjukkan kelas gaji tetap terus menjadi beban utama pajak, menyumbang 38% dari total pajak penghasilan, sementara kelas pedagang tetap berada jauh dari jaringan pajak.

Rapat Keamanan: DG ISPR Pakistan dijadwalkan mengadakan konferensi pers hari ini pukul 14.00 untuk membahas keamanan regional dan situasi di perbatasan.

Update Olahraga: Tim kriket Pakistan akan menghadapi Sri Lanka dalam pertandingan T20 Internasional pertama besok di Dambulla di bawah kepemimpinan Salman Ali Agha.

Penangkapan seorang kepala negara yang sedang menjabat telah menciptakan preseden kontroversial dalam hukum internasional. Sementara AS melihat ini sebagai kemenangan melawan narkotika, para kritikus melihatnya sebagai tindakan "penculikan" yang dapat mengganggu stabilitas Amerika Latin.

#venezuelanews

$BTC