## Pengantar

Berbeda dengan persepsi umum yang keliru, Amerika Serikat tidak melancarkan invasi militer skala penuh terhadap Venezuela selama masa pemerintahan Donald Trump. Namun, pemerintahan Trump memang terlibat dalam tindakan diplomatik, ekonomi, dan rahasia yang signifikan yang bertujuan menekan pemerintah Venezuela yang dipimpin oleh Nicolás Maduro. Upaya-upaya ini, termasuk sanksi, pengakuan terhadap pemimpin oposisi Juan Guaidó sebagai presiden sementara, serta dukungan terhadap upaya kudeta, dikemas sebagai upaya untuk memulihkan demokrasi dan menangani pelanggaran hak asasi manusia. Tetapi apa motivasi di baliknya? Artikel ini mengeksplorasi alasan resmi, konteks geopolitik, dan kepentingan strategis potensial yang mendorong kebijakan AS terhadap Venezuela dari tahun 2017 hingga 2021.

## Narasi Resmi: Demokrasi dan Hak Asasi Manusia

Secara publik, administrasi Trump membenarkan kebijakan Venezuelanya sebagai pembelaan terhadap demokrasi. Keruntuhan ekonomi Venezuela di bawah Maduro—ditandai oleh hiperinflasi, kekurangan makanan, dan emigrasi yang luas—dijadikan bukti pengelolaan yang otoriter. Pada Januari 2019, Trump mengakui Guaidó, kepala Majelis Nasional, sebagai presiden sah Venezuela, berargumen bahwa pemilihan ulang Maduro pada tahun 2018 adalah curang akibat penekanan pemilih dan ketidakteraturan.

Pandangan ini selaras dengan tujuan kebijakan luar negeri AS yang lebih luas di bawah Trump, yang sering memposisikan dirinya sebagai juara melawan "diktator sosialis" seperti Maduro. Administrasi memberlakukan lebih dari 150 sanksi terhadap pejabat Venezuela, perusahaan milik negara, dan sektor minyak, membekukan aset dan merusak ekonomi. Langkah-langkah ini dipresentasikan sebagai alat untuk memaksa pengunduran diri Maduro dan memungkinkan pemilihan umum yang bebas. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton sering mengangkat kekhawatiran tentang hak asasi manusia, termasuk laporan tentang penindasan politik dan penahanan tokoh oposisi.

## Kepentingan Geopolitik dan Strategis

Di luar retorika, tindakan AS di Venezuela dipengaruhi oleh stabilitas regional dan persaingan dengan musuh. Lokasi Venezuela di Amerika Selatan, kaya akan cadangan minyak (cadangan terbukti terbesar di dunia), menjadikannya pemain kunci di pasar energi global. Di bawah Maduro, produksi minyak Venezuela merosot tajam akibat salah urus dan sanksi, tetapi potensi eksploitasi di masa depan tetap menjadi faktor. Para kritikus, termasuk beberapa analis, telah menyarankan bahwa pendekatan keras Trump sebagian dimotivasi oleh keinginan untuk mengamankan akses ke sumber daya Venezuela, terutama saat AS berusaha mengurangi ketergantungan pada minyak Timur Tengah.

Selain itu, aliansi Venezuela dengan Rusia dan China meningkatkan ketegangan. Rusia memberikan dukungan militer kepada Maduro, termasuk pasukan dan pinjaman, sementara China menginvestasikan miliaran di minyak Venezuela. Doktrin "Amerika Pertama" Trump memandang kemitraan ini sebagai ancaman terhadap pengaruh AS di Belahan Barat. Dengan mengisolasi Maduro, administrasi bertujuan untuk melemahkan pijakan Rusia dan China, sejalan dengan upaya yang lebih luas untuk melawan ekspansi global mereka.

## Operasi Rahasia dan Kudeta yang Gagal

Meskipun tidak ada invasi formal yang terjadi, AS mendukung upaya rahasia yang meningkatkan ketegangan. Pada tahun 2020, sebuah operasi tentara bayaran yang gagal yang dikenal sebagai Operasi Gideon mencoba untuk menggulingkan Maduro, melibatkan mantan pasukan khusus AS dan pengungsi Venezuela. Meskipun administrasi Trump membantah keterlibatan langsung, dokumen yang bocor dan laporan menunjukkan kesadaran CIA dan Pentagon, jika bukan koordinasi. Insiden ini menegaskan kesediaan administrasi untuk mendukung perubahan rezim melalui cara yang tidak konvensional, didorong oleh frustrasi atas kegagalan diplomatik.

## Pertimbangan Ekonomi dan Domestik

Secara domestik, kebijakan Venezuela Trump menggaung di kalangan basisnya, menarik dukungan terhadap sentimen anti-sosialis dan janji untuk menghadapi pemerintahan "kiri radikal". Ini juga melayani kepentingan ekonomi; sanksi terhadap minyak Venezuela menciptakan peluang bagi produsen AS, seiring dengan kenaikan harga global di tengah gangguan pasokan. Namun, langkah-langkah ini memperburuk krisis kemanusiaan Venezuela, memicu kritik dari kelompok hak asasi manusia dan bahkan beberapa sekutu AS.

## Kesimpulan

Pendekatan AS terhadap Venezuela di bawah Trump bersifat multifaset, menggabungkan komitmen ideologis terhadap demokrasi dengan tujuan geopolitik dan ekonomi yang pragmatis. Meskipun tidak ada invasi yang terjadi, sikap agresif administrasi—melalui sanksi, pengakuan diplomatik, dan dukungan rahasia—bertujuan untuk mendestabilisasi rezim Maduro dan membentuk kembali dinamika regional. Apakah upaya ini berhasil dalam tujuan yang dinyatakan tetap diperdebatkan, karena Maduro tetap berkuasa, dan krisis Venezuela semakin dalam. Untuk pemahaman lebih dalam, sumber daya seperti laporan Dewan Hubungan Luar Negeri memberikan analisis seimbang tentang peristiwa ini.

Ikuti Saya untuk Pembaruan😊