Petugas bersenjata dari Badan Anti-Narkotika Amerika Serikat menangkap presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya. Para ahli memperingatkan bahwa operasi kekuatan untuk menangkapnya dalam kerangka perang melawan perdagangan narkoba bertentangan dengan norma hukum internasional yang mengatur penggunaan kekuatan antar negara.

Pengadilan New York menuduh Maduro, yang ditangkap oleh pasukan khusus Amerika Serikat pada malam Sabtu, serta istrinya, Silvia Flores. Pihak Amerika Serikat menekankan keabsahan proses hukum tersebut, mengacu pada peraturan hukum dalam negeri yang menyatakan bahwa tidak penting bagaimana tersangka tiba di wilayah negara tersebut. Namun, kritikus di Amerika Serikat dan di luar negeri menganggap argumen ini tidak berdasar, menunjukkan kurangnya dasar hukum untuk menangkap pemimpin Venezuela dan konsekuensi berbahaya dari pelanggaran aturan internasional ini.

Pemerintah Amerika Serikat segera menyatakan bahwa operasi di Caracas ditujukan untuk melawan perdagangan narkoba. Donald Trump dan anggota timnya menekankan ancaman yang menurut mereka berasal dari aliran narkoba dari Venezuela. Namun, hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan keterlibatan Maduro dalam penyelundupan, begitu pula pernyataan tentang skala perdagangan narkoba di Venezuela belum disajikan. Menggambarkan operasi ini sebagai tindakan penegak hukum memungkinkan Gedung Putih menghindari tuduhan penggunaan militer secara ilegal di luar negeri tanpa persetujuan Kongres.

Para ahli hukum, baik di Amerika Serikat maupun di negara lain, tidak menerima penjelasan ini. Profesor Universitas Yale, Una Hatfield, mencatat bahwa hak untuk membela diri yang diatur dalam Piagam PBB hanya memungkinkan penggunaan kekuatan dalam kasus agresi bersenjata, dan tidak pernah diperluas untuk melawan perdagangan narkoba. Menurutnya, hukum internasional pada awalnya dibentuk untuk membatasi penggunaan kekuatan sepihak oleh negara-negara.

Ahli dari Chatham House, Mark Wehler, mengingatkan bahwa hukum internasional mengizinkan penggunaan kekuatan militer hanya dalam dua kasus: sebagai tanggapan terhadap agresi bersenjata atau untuk mencegah bencana kemanusiaan, dan hanya dengan persetujuan PBB. Menurutnya, kedua kondisi ini tidak berlaku untuk tindakan Amerika Serikat di Venezuela, dan kepentingan politik serta ekonomi tidak dapat menjadi dasar hukum untuk operasi ini.

Kemungkinan besar tidak akan ada keputusan akhir mengenai pelanggaran hukum internasional oleh Amerika Serikat: secara teoritis, Dewan Keamanan PBB bisa mengeluarkan keputusan semacam itu, tetapi dalam praktiknya hal ini tidak mungkin karena hak veto Amerika Serikat.

Setelah penuntutan terhadap Maduro di Dewan Keamanan PBB, terdengar pernyataan tegas dari perwakilan Tiongkok, Kolombia, dan Rusia. Duta besar Rusia, Vasili Nebenzya, menyatakan bahwa kejadian ini dianggap sebagai kembalinya ke zaman tekanan kekuasaan, kekacauan, dan ketiadaan hukum dalam hubungan internasional.

Di pihak lain, perwakilan Amerika Serikat, Michael Waltz, menolak semua tuduhan, menyebut kejadian tersebut sebagai 'operasi penegak hukum terarah' terhadap individu yang bersembunyi dari pengadilan Amerika Serikat. Ia menggambarkan Maduro dan Flores sebagai 'teroris narkoba', menuduh mereka mengancam keamanan Amerika Serikat dan melakukan represi terhadap rakyat Venezuela.

Ahli hukum internasional Gleb Bogush dalam komentar kepada BBC menekankan bahwa tindakan Amerika Serikat secara kasar melanggar prinsip dasar hukum internasional. Menurutnya, yang paling memprihatinkan adalah sifat operasi yang menunjukkan keberanian dan fakta bahwa pemerintah Amerika bahkan tidak mencoba membuat dasar hukum yang meyakinkan untuk tindakan mereka.

#NEW

#New2026

#CPIWatch