Secara historis, keluarga kaya di Tiongkok memandang properti mewah sebagai "tempat perlindungan aman" terakhir untuk kekayaan mereka. Namun, pergeseran ekonomi saat ini menyebabkan pergeseran signifikan menuju aset digital seperti Bitcoin. Berikut adalah poin-poin utama:

1. Penurunan Pasar Properti

Properti mewah di kawasan prestisius, seperti Shenzhen Bay, mengalami penurunan harga yang dramatis—terkadang hingga 40% hingga 50% dari puncaknya. Hal ini telah menghancurkan keyakinan lama bahwa perumahan mewah adalah "penyimpan nilai" yang pasti naik harganya.

2. Masalah Likuiditas

Salah satu masalah terbesar dengan rumah mewah adalah likuiditas. Saat ini sangat sulit menemukan pembeli untuk properti bernilai jutaan dolar. Sebaliknya, Bitcoin dan saham global (seperti Nvidia) menawarkan likuiditas tinggi, memungkinkan investor untuk mentransfer jumlah besar uang lintas batas dengan cepat dan mudah.

3. Tekanan Regulasi dan Pajak

Memiliki aset fisik besar di Tiongkok membawa pengawasan pemerintah yang signifikan. Individu kaya yang memiliki properti bernilai lebih dari 100 juta yuan ($13 juta) sering menghadapi audit pajak yang ketat. Memindahkan kekayaan ke aset digital terdesentralisasi memberikan lapisan privasi dan perlindungan dari perubahan regulasi lokal.

4. Perubahan Generasi

Generasi baru investor Tiongkok kurang tertarik pada "batu bata dan kayu." Mereka memandang Bitcoin sebagai "emas digital" yang kebal terhadap inflasi ekonomi lokal dan ketidakstabilan geopolitik. Bagi banyak orang, dompet digital kini lebih bergengsi dan praktis dibandingkan sertifikat kepemilikan rumah mewah.

Poin utama: Artikel ini menunjukkan bahwa kita sedang menyaksikan perubahan struktural dalam cara kekayaan disimpan di Asia. Preferensi berpindah dari aset fisik dan lokal (properti) ke aset digital dan lintas batas (Bitcoin).

Catatan: Ringkasan ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan.

$BTC

$BTC

$ETH #BinanceHODLerBREV #WriteToEarnUpgrade