๐Ÿ“‰ Apa yang Terjadi di 2025

Mayoritas token baru anjlok tajam.

Dari sekitar 118 token baru di 2025, ~85% sekarang diperdagangkan di bawah harga awalnya, dengan median penurunan lebih dari 70%.

Ini berbanding terbalik dengan siklus pasar sebelumnya (mis. 2021) di mana banyak peluncuran mendapatkan pump harga besar di awal.

๐Ÿง  Penyebab Kegagalan

1. Pasar altcoin yang lesu โ€“ Memecoin dan hype melemah setelah bubble, sementara Bitcoin tetap lebih atraktif sehingga modal trader banyak terkonsentrasi di BTC tanpa rotasi ke token baru.

2. Distribusi yang tidak tepat โ€“ Banyak token dibagikan lewat airdrop besar dan alokasi CEX yang justru menciptakan lebih banyak spekulan jangka pendek ketimbang pengguna yang benar-benar memakai produk atau layanan.

3. Utility rendah โ€“ Banyak token yang diluncurkan belum punya peran penting dalam ekosistemnya, sehingga demand organik rendah dan harga mudah jatuh saat pasar bearish.

4. Regulasi yang kabur โ€“ Ketidakpastian hukum (terutama di AS soal hak serupa saham dan token) membuat tim memilih desain token yang โ€œamanโ€ tetapi kurang menarik dari segi fungsi jangka panjang.

๐Ÿ”ฎ Tren yang Mungkin Muncul Selanjutnya

Model distribusi berbasis penggunaan, bukan airdrop massal โ€“ Reward hanya diberikan pada orang yang benar-benar pakai produk (mis. kontribusi, kegiatan jaringan, biaya penggunaan, dll.).

Fokus kembali ke token yang punya value nyata dan utilitas jelas, bukan sekadar hype listing di bursa besar.

๐Ÿงพ Intinya

2025 jadi semacam uji realitas bagi dunia token: pasar sudah tidak mau lagi memberi harga tinggi pada token yang hanya dijual karena FOMO atau listing besar saja. Nilainya kini makin ditentukan oleh keterkaitan token dengan penggunaan riilnya โ€” bukan sekadar-momen-pertama-trading.

$BTC