Situasi di Iran dengan cepat melampaui batas 'protes internal'.

➥ Donald Trump dengan tegas memperingatkan Teheran:

'Jika tentara Iran mulai menembaki warga sipil yang tak berdaya—kami akan memberikan serangan kuat kepada mereka.'

Ini bukan diplomasi. Ini ancaman langsung—terbuka dan menunjukkan kekuatan.

➥ Secara bersamaan Trump menampilkan video dari protes massal di Mashhad—kota terbesar kedua di negara itu—dan secara halus menunjukkan bahwa rezim bisa saja tidak mampu bertahan.

➥ Protes sudah terjadi di seluruh Iran. Dimulai dari ekonomi yang biasa saja:
rial anjlok, inflasi menghancurkan.
Namun sangat cepat hal ini berubah menjadi politik:
orang-orang secara terbuka menentang kebijakan luar negeri, petualangan militer, dan program nuklir.

➥ Pertikaian terjadi di kota-kota besar.
Internet di seluruh negeri dimatikan sepenuhnya.
Berdasarkan data aktivis hak asasi manusia — 34–45 orang tewas, termasuk anak-anak.
Lebih dari 2200 orang telah ditangkap, dan angka ini pasti belum final.


➥ Tanggapan Teheran — sangat keras.
Pemimpin tertinggi Khamenei secara terbuka menanggapi Trump:

"Trump harus fokus mengelola negaranya sendiri."

Dan menambahkan bahwa Iran "tidak akan menyerah terhadap vandalisme" dan "tidak akan mentolerir agen-agen yang didukung oleh asing."

➥ Selanjutnya — lebih buruk.
Kementerian Luar Negeri Iran menyalahkan AS atas penghasutan kekerasan dan terorisme.
Kekuasaan yudikatif mengumumkan kebijakan nol toleransi.
Militer secara langsung menyatakan tindakan preventif sebagai respons terhadap ancaman dari Washington.


Kita melihat skenario klasik:

  • ketidakstabilan internal;

  • tekanan luar negeri;

  • pertukaran ultimatum;

  • internet dimatikan;

  • retorika militer dari kedua belah pihak.

Memang dari titik-titik seperti inilah konflik besar secara historis dimulai.

Saat ini — fase informasi.
Namun ketika para pemimpin beralih ke bahasa kekuatan secara terbuka, kembali ke belakang jarang terjadi.

#war #IranIsraelConflict