Pandangan Arktik: Kedaulatan Greenland vs. Ambisi Amerika Serikat
Suhu geopolitik di Atlantik Utara telah mencapai titik didih seiring memasuki tahun 2026. Dengan Amerika Serikat menetapkan Greenland sebagai "prioritas keamanan nasional," pulau ini berada di tengah-tengah persaingan sejarah antara Washington dan Kopenhagen.
Konflik Inti
Tekanan AS: Pemerintahan Trump telah memperbarui seruan untuk mengakuisisi Greenland, dengan alasan pentingnya pulau ini bagi pertahanan Arktik dan pelacakan rudal.
Dilema Greenland: Meskipun pemerintah resmi tetap berada di bawah Denmark untuk saat ini, para pemimpin oposisi meminta pembicaraan langsung dengan AS, melihat Denmark sebagai perantara yang tidak perlu.
Perlawanan Denmark: Perdana Menteri Mette Frederiksen telah memperingatkan bahwa setiap upaya merebut wilayah tersebut akan "mengakhiri NATO," bahkan mengeluarkan perintah "tembak dahulu" untuk mempertahankan tanah Greenland.
Perubahan Strategis Kunci
Tensi Tiga Pihak: Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan mengadakan pertemuan mendesak dengan para menteri Denmark dan Greenland untuk menurunkan ketegangan retorika.
Faktor Kemerdekaan: Kelompok-kelompok pro kedaulatan di Greenland memanfaatkan krisis ini untuk mendorong putus total dari Kerajaan Denmark.
NATO dalam Bahaya: Perdebatan ini menandai rekaman retakan internal terbesar dalam sejarah NATO, di mana satu sekutu (Denmark) bersiap mempertahankan wilayah dari ambisi mitra terbesarnya (AS).
Inti Permasalahan: Greenland kini bukan lagi pulau terpencil; melainkan "garis depan" dari Perang Dingin baru, di mana harga keamanan mungkin adalah pembubaran kerajaan yang telah berlangsung berabad-abad.



