Amerika Serikat dan India semakin mendekati penyelesaian kesepakatan perdagangan yang lama ditunggu-tunggu. Pada hari pertamanya menjabat, Duta Besar Amerika Serikat yang baru dilantik, Sergio Gor, mengumumkan di New Delhi bahwa negosiasi sedang berlangsung dan panggilan penting lainnya antara kedua pihak sudah dijadwalkan.

"Sahabat sejati mungkin terkadang tidak setuju, tetapi mereka selalu menemukan jalan kembali ke tanah bersama," kata Gor kepada staf kedutaan. Ia mengonfirmasi bahwa kedua pemerintah aktif terlibat dan berkomitmen untuk mencapai kesepakatan.

Video: https://www.youtube.com/watch?v=HsCV6soEErQ

Kompleksitas India Menghambat Proses, Namun Tekad Tetap Kuat

Gor mencatat bahwa tantangan utamanya berasal dari ukuran besar dan kompleksitas ekonomi India. AS awalnya berencana menyelesaikan kesepakatan ini pada awal masa jabatan kedua Trump, tetapi isu yang belum terselesaikan menyebabkan penundaan.

Salah satu titik yang menimbulkan perdebatan: tarif impor. AS menerapkan bea masuk hingga 50% terhadap barang-barang India—salah satu yang tertinggi di dunia—sebagai respons terhadap meningkatnya impor energi India dari Rusia.

Ketegangan semakin memuncak karena klaim bahwa Perdana Menteri India Narendra Modi tidak pernah menelepon Trump untuk menyelesaikan kesepakatan. Pernyataan ini dibuat oleh Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, yang memicu reaksi keras di New Delhi. Pejabat India juga kesal dengan klaim Trump sebelumnya bahwa ia secara pribadi mengakhiri konflik India-Pakistan—sesuatu yang India sangat menolak.

Untuk meredakan ketegangan, Gor menekankan ikatan pribadi antara kedua pemimpin tersebut. "Saya dapat memastikan bahwa persahabatan Trump dengan Perdana Menteri Modi nyata," katanya dalam pidato di depan kantor kedutaan, menegaskan kolaborasi tingkat tinggi antara kedua negara.

India Siap Bergabung dengan Aliansi Teknologi Pax Silica Elit

Gor juga mengungkapkan bahwa India segera akan diundang untuk bergabung dalam 'Pax Silica', aliansi teknologi baru yang dipimpin AS dan sudah menyertakan Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Israel. Inisiatif ini bertujuan membangun rantai pasok independen, aman untuk semikonduktor, AI, dan bahan tanah langka.

"Pax Silica adalah inisiatif strategis yang dipimpin AS untuk membangun rantai pasok silikon yang tangguh dan inovatif—mulai dari mineral kritis dan input energi hingga manufaktur chip canggih, pengembangan AI, dan logistik," jelas Gor. Undangan resmi India diharapkan bulan depan.

Di balik layar, pemerintahan Trump sedang bergerak cepat: memperoleh saham di perusahaan pertambangan dan pembuat chip, berinvestasi dalam proyek-proyek bahan tanah langka, serta memanfaatkan izin ekspor chip canggih sebagai alat diplomatik utama.

Gor Mengambil Alih untuk Memperkuat Hubungan Strategis

Sergio Gor, loyalis Trump sejak lama dan mantan kepala Kantor Personel Presiden, kini menjabat salah satu posisi diplomatik paling strategis di Asia Selatan. Meskipun baru di wilayah ini, ia memiliki pengalaman mendalam dalam operasi Gedung Putih—dan memiliki misi jelas: menyelesaikan kesepakatan perdagangan AS-India dan menjadikan India sebagai sekutu teknologi utama Barat.

Ia menggantikan Eric Garcetti, mantan walikota Los Angeles dan pendukung kampanye Biden, menandai pergeseran lain di era Trump dalam pengaruh global.

Apakah Gor dapat menyelesaikan kesepakatan yang tertunda lama ini masih harus dilihat. Namun dengan negosiasi kembali berjalan dan India yang siap bergabung dalam aliansi Pax Silica, jalur menuju era baru kerja sama AS-India tampak terbuka lebar.

#TRUMP , #India , #usa , #Geopolitics , #worldnews

Tetap satu langkah di depan – ikuti profil kami dan tetap terinformasi tentang semua hal penting di dunia kripto mata uang!

Pemberitahuan:

,,Informasi dan pandangan yang disajikan dalam artikel ini dimaksudkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat investasi dalam situasi apa pun. Konten halaman ini tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan, investasi, atau bentuk nasihat lainnya. Kami memperingatkan bahwa berinvestasi dalam kripto mata uang bisa berisiko dan dapat menyebabkan kerugian finansial.