Mengapa skandal Fed menjadi sinyal buruk bagi aset Amerika?
- Strategi "Jual Amerika" kembali muncul ketika para investor secara massal menjual USD, saham, dan obligasi AS, setelah munculnya informasi bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump mendorong penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell. Langkah ini memicu kekhawatiran atas pelanggaran kemandirian Fed—dasar kepercayaan pasar keuangan AS.
- Pada sesi 12/1, saham AS turun tajam (futures Dow Jones sempat turun 350 poin), USD melemah (~-0,4%), sementara imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik hampir 4,2% (harga obligasi turun). Pasar menganggap tekanan politik bisa berdampak sebaliknya, membuat suku bunga sulit turun sesuai ekspektasi.
- Sebaliknya, aset pelarian meningkat: emas naik 2% ke level tertinggi sejarah ~4.600 USD/oz, perak naik 6%. Pergerakan ini dianggap sebagai "gema" dari gelombang Sell America pada musim semi tahun lalu, ketika ketegangan kebijakan mengguncang saham, obligasi, dan USD secara bersamaan.
Alasan-alasannya:
1. Kehilangan penyangga keamanan
Sebelumnya, seluruh dunia percaya menaruh uang di AS karena tahu Fed bekerja secara mandiri. Kini, jika Fed harus takut terhadap politik, mereka akan terpaksa mencetak uang atau menurunkan suku bunga demi memuaskan pemerintah, terlepas dari dampak buruk bagi ekonomi. Dalam hal ini, USD akan kehilangan nilai lebih cepat dan tidak lagi aman.
2. Barang-barang AS terlalu mahal dibanding risikonya
Orang bersedia membeli saham AS dengan harga tinggi karena dianggap sebagai investasi paling stabil. Namun, ketika stabilitas hukum menurun, Amerika menjadi pasar berisiko tinggi. Ketika risiko meningkat tanpa penurunan harga, berarti pasar sedang "tertipu". Menurut aturan pasar, harga harus turun tajam untuk kembali ke nilai sebenarnya.