Pada pertengahan Januari 2026, pasar kripto sedang berada dalam fase transisi setelah mencapai puncak di tahun 2025 dan kemudian mengalami koreksi. Para ahli secara umum memandang tahun 2026 sebagai tahun pematangan adopsi institusional, kemajuan regulasi, dan pertumbuhan struktural, bukan lagi ledakan spekulasi ritel seperti dulu. Banyak yang memprediksi akhir dari siklus empat tahunan tradisional, digantikan oleh tren naik yang lebih stabil didorong oleh ETF, stablecoin, aset dunia nyata (RWA), dan regulasi Amerika yang lebih jelas.

1. Menurut Changpeng Zhao (CZ), pendiri Binance, prospek crypto di tahun 2026 sangat bullish. CZ mengatakan "I could be wrong, but Super Cycle incoming" di postingan X-nya pada Januari 2026. Artinya Dia memprediksi kemungkinan terjadinya "supercycle" atau siklus super bull di pasar crypto, yang berpotensi menjadi fase ekspansi panjang dan kuat, berbeda dari siklus 4 tahunan biasa.

Adapun faktor pendorong yang disebutkan CZ meliputi:

- Pemotongan suku bunga dan kebijakan moneter longgar (quantitative easing).

- Adopsi institusional yang semakin masif (misalnya bank besar seperti Wells Fargo mulai akumulasi Bitcoin).

- Normalisasi crypto di sistem keuangan tradisional.

- Dia juga bilang "2026 will be incredible" dan menekankan untuk "pay attention to the details", menunjukkan keyakinan bahwa tahun ini bisa luar biasa untuk crypto secara keseluruhan.

Namun, CZ selalu ingatkan bahwa dia "bisa salah" namun ini bergantung pada faktor makro dan regulasi yang terus positif.

2. Menurut Arthur Hayes (co-founder BitMEX dan CIO Maelstrom), outlook crypto di tahun 2026 terlihat sangat bullish, terutama karena faktor liquidity besar-besaran dari kebijakan moneter AS (Fed), defisit fiskal, dan potensi "money printing" yang masif menjelang midterm election 2026.

Hayes juga sangat optimis dengan BTC sebagai "canary of liquidity" (indikator utama aliran uang), karena didorong oleh beberapa faktor :

- Politik AS: Trump/administrasi bakal dorong spending besar + suku bunga rendah untuk menang midterm 2026 → liquidity boom.

- Geopolitik (misalnya isu Venezuela) bisa jadi katalis tambahan untuk BTC.

- Secara keseluruhan, Hayes bilang kita masih di akhir "beginning" cycle, dan 2026-2027 baru "meat" (bagian paling juicy) dari bull market.

3.Menurut Larry Fink (CEO BlackRock) crypto di 2026 terlihat sangat bullish dan punya potensi pertumbuhan eksplosif. Tidak seperti jejak digitalnya dulu, Larry Fink, yang dulu skeptis banget sama Bitcoin (bahkan pernah bilang itu "alat pencuci uang"), sekarang jadi salah satu pendukung terbesar crypto dari kalangan Wall Street. Di awal 2026, dia bilang:

- Bitcoin dan aset digital bisa tumbuh lebih cepat daripada internet di masa awal (early internet boom).

  Ini karena tokenization (mengubah aset dunia nyata jadi token di blockchain) bakal jadi game-changer besar, bikin pasar lebih efisien, transparan, dan aksesibel.

- Bitcoin disebut sebagai "asset of fear" — mirip emas modern. Orang beli BTC karena takut inflasi, defisit pemerintah AS yang membengkak, dan ketidakstabilan fiat. Ini bikin BTC jadi safe-haven alternatif di masa ketidakpastian.

- BlackRock sendiri pegang ratusan ribu BTC lewat ETF mereka (IBIT), dan Fink prediksi BTC bisa capai level tinggi jangka panjang (ada yang nyebut target $700K di masa depan, meski bukan spesifik 2026).

Outlook keseluruhan crypto 2026 menurut Fink & tren institusional:

- Institusi (seperti sovereign funds) terus beli BTC, bahkan saat harga turun.

- Tokenization RWA (real-world assets) bakal mainstream — gabungin crypto sama keuangan tradisional.

- Stablecoin dan AI + crypto bakal redefine commerce digital.

- Regulasi lebih jelas (terutama di AS) + adopsi dana pensiun/401K → dorong inflow besar.

Secara umum, 2026 diprediksi jadi tahun di mana crypto integrasi mendalam ke sistem keuangan global, bukan lagi "hype" tapi infrastruktur.