Pada Januari 2026, situasi ekonomi di Iran telah mencapai titik kritis. Di tengah hiperinflasi dan penurunan nilai rial ke titik terendah historis (sekitar 1,5 juta untuk $1), cryptocurrency telah menjadi bagi warga negara bukan hanya investasi, tetapi satu-satunya cara untuk bertahan secara finansial. Menurut laporan terbaru dari Chainalysis, volume ekosistem crypto Iran telah meningkat menjadi $7,78 miliar dalam setahun terakhir.
Penurunan nilai rial menyebabkan bahwa di beberapa bursa internasional, nilainya mulai ditampilkan sebagai «$0.00» karena batasan teknis sistem pembulatan. Ini memicu keluarnya massa masyarakat ke stablecoin (USDT) dan Bitcoin. Analis mencatat lonjakan rekor penarikan BTC dari bursa lokal ke dompet 'dingin' pribadi — orang Iran tidak lagi mempercayai sistem perbankan.
Fakta kunci laporan:
* Dominasi IRGC: Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengontrol lebih dari 50% dari semua transaksi, menginvestasikan lebih dari $3 miliar dalam aset digital untuk menghindari sanksi.
* Perlawanan finansial: Bagi warga biasa, crypto telah menjadi alat 'protes diam-diam' terhadap kebijakan fiskal pemerintah.
* Perdagangan senjata: Teheran resmi bahkan mulai menawarkan negara-negara asing untuk membeli roket dan drone dengan cryptocurrency.
Meskipun usaha pemerintah untuk membatasi pembelian token dengan batasan $5,000 per tahun, orang Iran secara massal menggunakan platform P2P. Untuk negara di mana satu kilogram daging kambing sama dengan gaji bulanan, blockchain telah menjadi 'pelampung penyelamat' yang nyata.
Ikuti #MiningUpdates , untuk memahami bagaimana geopolitik mengubah aturan permainan di pasar crypto!
#IranCrypto #BitcoinShelter #RialCollapse #Chainalysis #CryptoNews2026