Kerajaan Arab Saudi saat ini sedang menyelesaikan dua aliansi militer trilateral baru yang signifikan, menandai pergeseran besar dalam kebijakan luar negerinya dan pengaruh regional. Perluasan strategis ini diharapkan akan membentuk kembali dinamika di Timur Tengah dan Tanduk Afrika.
Satu aliansi sedang terbentuk dengan Pakistan dan Turki, sementara yang lain sedang dibentuk dengan Mesir dan Somalia. Dengan mengintegrasikan Turki, Mesir, dan Somalia ke dalam kerangka strategisnya, Arab Saudi secara tegas memasuki permainan geopolitik di Tanduk Afrika untuk pertama kalinya.
Langkah ini dimulai dengan pergeseran strategis Riyadh menuju Laut Merah dan Tanduk Afrika pada akhir 2025. Tujuan inti sudah jelas: membangun jaringan aliansi dan investasi yang kuat untuk mengamankan rute maritim yang vital, memastikan keamanan pangan di bawah Visi Saudi 2030 yang ambisius, dan secara efektif melawan ancaman yang dianggap ada terhadap stabilitas regional.
Secara historis, keterlibatan Riyadh di wilayah kritis ini terbatas, terutama berfokus pada penyebaran agama dan hubungan ekonomi yang sederhana. Namun, peluncuran Visi Saudi 2030 pada tahun 2016 secara dramatis mengubah pentingnya Tanduk Afrika, mengakui bahwa itu vital untuk impor pertanian Arab Saudi dan dominasi Laut Merah.
Dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi secara aktif telah memberikan bantuan substansial dan dukungan militer kepada Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dalam perang saudara yang sedang berlangsung, bertujuan untuk mengamankan akses yang lebih besar ke Pelabuhan Sudan. Secara bersamaan, Saudi sedang mengembangkan pusat logistik di Djibouti dan memiliki kepentingan besar dalam pengembangan pelabuhan di Assab, Eritrea, membayangkannya sebagai pusat transshipment regional di masa depan.
Lebih jauh memperkuat jejak regionalnya, Riyadh telah mengejar kesepakatan pelabuhan penting di Somalia, sambil memberikan Mogadishu senjata, pelatihan, dan berbagi intelijen yang penting. Upaya bersama ini berpuncak pada "Poros Laut Merah" yang baru lahir pada Januari 2026, dipimpin oleh Arab Saudi bekerja sama dengan Turki, yang ditandai dengan pertemuan kerjasama angkatan laut di Ankara. Protokol angkatan laut yang penting juga ditandatangani dengan Mesir pada bulan September tahun lalu.
Aliansi baru yang kuat dari Arab Saudi ini menarik perhatian dan menimbulkan alarm di Israel dan AS. Mereka menunjukkan bahwa Riyadh mungkin sedang mempertimbangkan pilihan, berpotensi menjauh dari aliansi penuh dengan Barat menuju kemitraan regional yang lebih kuat dan pergeseran implisit menuju China dan Rusia. Implikasi untuk keseimbangan kekuatan global dan keamanan regional sangat mendalam.
\u003ct-33/\u003e \u003ct-35/\u003e \u003ct-37/\u003e #HornOfAfrica #ForeignPolicy #MilitaryAlliances #Vision2030 \u003ct-39/\u003e #RegionalSecurity #GlobalPolitics #TradeRoutes #MaritimeSecurity #Diplomacy \u003ct-41/\u003e