Salah satu tantangan besar pasar kripto adalah memahami mengapa likuiditas tidak bertahan di saat-saat krisis atau ketidakpastian tinggi...

Dan jawabannya jauh melampaui harga atau volatilitas: ini adalah historis, fungsional, dan psikologis.

Selama berabad-abad, logam mulia telah menjadi tempat berlindung yang utama. Bukan karena mereka ideal, tetapi karena mereka telah membuktikan sesuatu yang kunci: kepercayaan yang berkelanjutan seiring waktu. Modal, ketika merasa takut, tidak mencari inovasi, tetapi mencari kelangsungan hidup. Dan dalam persamaan itu, sejarah lebih berat daripada janji.

Dalam kripto, masalah utama bukanlah teknologi, tetapi utilitas nyata sehari-hari. Hingga hari ini, sebagian besar cryptocurrency tidak digunakan secara berulang untuk membayar barang dan jasa esensial, maupun untuk menutupi tanggung jawab keuangan umum seperti sewa, pajak, kredit, atau gaji. Ini menghasilkan efek yang jelas: mereka yang menerima cryptocurrency sebagai alat pembayaran cenderung untuk segera menjualnya agar terhindar dari devaluasi pendapatan mereka.

Ini menyebabkan bahwa, alih-alih beredar dan tetap, likuiditas memantul dan keluar dari pasar.

Selain itu, dalam skenario stres makroekonomi, modal mencari:

- Stabilitas

- Penerimaan universal

- Volatilitas rendah segera

Dan meskipun Bitcoin maju sebagai cadangan nilai, ekosistem kripto secara keseluruhan masih belum sepenuhnya memenuhi kondisi-kondisi tersebut.

Itulah mengapa, ketika ketidakpastian muncul, uang pertama-tama berpindah ke instrumen tradisional. Bukan karena mereka lebih baik, tetapi karena mereka fungsional hari ini, bukan besok.

Ini tidak membatalkan cryptocurrency. Sebaliknya, ini mengungkap titik baliknya:

👉 adopsi nyata tidak akan datang dari harga, tetapi dari penggunaan sehari-hari.

Ketika kripto menjadi alat sehari-hari—bukan hanya aset spekulatif—likuiditas akan berhenti melarikan diri di waktu-waktu sulit dan mulai bertahan.

Sampai saat itu, pasar akan tetap bersinar, menjanjikan… dan rentan terhadap ketakutan.