Selama setahun terakhir, dolar AS telah menunjukkan tanda-tanda kelemahan yang jelas setelah periode kekuatan yang lama. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur dolar terhadap sekeranjang mata uang global utama, telah turun sekitar 10% tahun-ke-tahun, menandai salah satu kinerja terlemah dalam beberapa tahun terakhir.
Penurunan ini didorong oleh kombinasi ekspektasi ekonomi dan perubahan sentimen global. Salah satu faktor terbesarnya adalah meningkatnya keyakinan bahwa Federal Reserve AS mungkin mulai menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi daya tarik memegang aset yang dinyatakan dalam dolar, menyebabkan investor mencari tempat lain untuk mendapatkan imbal hasil.
Penggerak kunci lainnya adalah ketidakpastian kebijakan dan geopolitik. Kekhawatiran seputar meningkatnya utang pemerintah, tekanan fiskal, dan ketegangan politik telah membebani kepercayaan terhadap dolar. Ketika ketidakpastian meningkat, investor global seringkali mengurangi eksposur terhadap satu mata uang dan mendiversifikasi di berbagai wilayah dan kelas aset.
Selain itu, bank sentral dan lembaga besar di beberapa negara telah secara bertahap mengurangi ketergantungan mereka pada dolar AS. Meskipun dolar tetap menjadi mata uang cadangan utama dunia, tren diversifikasi yang lambat ini telah menambah tekanan seiring waktu.
Meskipun penurunan terbaru, dolar masih merupakan kekuatan dominan dalam perdagangan dan keuangan global. Namun, pergerakan pasar saat ini menunjukkan bahwa kekuatannya tidak lagi dijamin dalam jangka pendek. Trader dan investor sekarang mengawasi data ekonomi yang akan datang dan keputusan Federal Reserve, yang bisa menentukan apakah kelemahan ini akan terus berlanjut atau stabil dalam beberapa bulan ke depan