Jepang berencana untuk menunda ETF Bitcoin/kripto spot "hingga 2028": ini bukan sekadar penundaan, tetapi mengikat ETF dengan reformasi pajak dan penempatan hukum sebagai satu proyek besar.

$BTC

Baru-baru ini, beberapa media mengutip informasi dari (Nikkei) yang menyebutkan bahwa Otoritas Jasa Keuangan Jepang (FSA) sedang mendorong pengaturan sistem, sehingga ETF aset kripto (termasuk ETF Bitcoin spot) paling cepat dapat diperdagangkan secara regulatif di pasar Jepang pada tahun 2028.


Jika diterjemahkan ke dalam bahasa investor: ini bukan berarti "Jepang tidak menginginkan ETF", melainkan "Jepang ingin menggunakan kerangka hukum dan pajak yang lebih lengkap sebelum memberikan izin".

Berikut ini dari perspektif keuangan profesional, memecah logika kebijakan, garis waktu, dan dampak pasar di balik informasi ini.

1) Kunci 'ditunda hingga 2028': Jepang sedang menulis ulang posisi hukum keuangan untuk aset kripto

Saat ini, kerangka regulasi Jepang untuk aset kripto, jangka panjang berfokus pada 'bursa/penitipan/perlindungan pengguna' dan bukan sepenuhnya menganggap aset kripto setara dengan 'produk keuangan' seperti saham dan dana.

Mulai tahun 2025, lapisan regulasi Jepang telah diberitakan mempertimbangkan untuk merevisi undang-undang, untuk lebih jelas memasukkan aset kripto ke dalam lingkup pengawasan produk keuangan (misalnya, berlaku untuk peraturan perdagangan dalam), dan bersiap untuk mengajukan revisi terkait ke parlemen secepatnya pada tahun 2026.

Keterkaitan dengan ETF adalah: ETF adalah produk pasar modal yang khas, dan jika diizinkan 'aset kripto sebagai objek investasi untuk reksa dana' atau 'izinkan aset kripto ETF terdaftar', regulator harus menjawab tiga pertanyaan sekaligus:

  • Sifat aset: Aset kripto sebenarnya termasuk dalam kategori aset investasi mana?

  • Keadilan pasar: Bagaimana menangani pembentukan harga, risiko manipulasi, dan asimetri informasi?

  • Perlindungan investor: Apakah penjualan yang memenuhi syarat, pengungkapan risiko, penitipan, penyelesaian, dan mekanisme penyelesaian sengketa sudah lengkap?

Dari sudut pandang 'jumlah pekerjaan' regulasi, menunda hingga 2028 lebih terlihat seperti menyelesaikan ketiga isu sekaligus, bukan hanya membuka jalur pengecualian untuk ETF.

2) Sistem perpajakan adalah 'titik kritis' kedua: untuk ETF diluncurkan, biasanya perlu bersamaan dengan reformasi pajak kripto

Laporan pasar umumnya menyebutkan bahwa pihak pengatur Jepang berniat mengaitkan peluncuran ETF dengan reformasi pajak (terutama cara perpajakan untuk investor individu) dalam satu paket kebijakan.

Alasannya sangat realistis:

  • Jika investor masuk melalui ETF, tetapi tetap tertekan oleh tarif pajak marjinal yang tinggi atau klasifikasi pajak yang tidak menguntungkan, 'manfaat kebijakan publik' dari ETF akan menurun.

  • Bagi regulator, merelaksasi ETF akan dengan cepat memperluas jangkauan investor ritel; jika reformasi pajak dan perlindungan investor tidak bersamaan, risiko politik dan sosial lebih tinggi. Oleh karena itu, reaksi industri terhadap 'hanya akan dilepaskan pada 2028' sering kali terfokus pada 'Jepang mungkin akan kehilangan jendela kompetisi Asia'. Misalnya, laporan mengutip kritik dari orang-orang di industri keuangan Jepang: menunggu hingga 2028 mungkin 'terlalu terlambat'.

3) Apa arti '2028' bagi pasar investasi: bukan tidak ada kesempatan, tetapi 'penetapan harga beralih dari peristiwa jangka pendek menjadi struktur jangka panjang'

Dari segi harga Bitcoin itu sendiri, penundaan Jepang tidak secara otomatis menyebabkan dampak satu arah, karena modal marjinal global saat ini masih didominasi oleh ETF spot AS, modal ekosistem, dan likuiditas makro. Namun, untuk 'pasar modal lokal Jepang' ada tiga arti yang lebih konkret:

(1) Produk dari pialang lokal/manajer aset akan terpaksa ditunda

Laporan menyebutkan bahwa lembaga keuangan besar Jepang (seperti SBI, Nomura terkait) sedang mempersiapkan produk, tetapi waktu perdagangan mungkin jatuh sekitar tahun 2028.

(2) Permintaan ritel Jepang mungkin terpaksa melimpah ke alat asing

Dalam kekosongan ETF yang sesuai secara lokal, permintaan biasanya akan beralih ke: bursa asing, ETF asing (jika dapat diakses), atau melalui kendaraan tidak langsung lainnya (seperti perusahaan terdaftar asing/struktur kepercayaan) untuk mendapatkan eksposur. Ini akan membuat regulator Jepang lebih memperhatikan risiko lintas batas dan perlindungan investor, yang pada gilirannya memperkuat alasan 'perlunya satu set lengkap sistem'.

(3) Perlombaan regulasi Asia: jika Jepang datang terlambat, pesaing akan menduduki posisi lebih dulu

Laporan pasar sering membandingkan Jepang dalam 'perlombaan ETF Asia' (seperti Hong Kong telah meluncurkan produk terkait, Korea juga sedang dalam kerangka).

Biaya dari pilihan Jepang untuk jalur yang berhati-hati adalah pelopor lebih mudah menarik dana dan likuiditas regional.

4) Bagaimana investor harus menafsirkan '2028': menganggapnya sebagai jalur kebijakan, bukan tanggal penyelesaian yang pasti

Perlu diingat: saat ini, apa yang terlihat oleh publik adalah 'media mengutip arah/regulasi yang direncanakan', tidak sama dengan Otoritas Keuangan Jepang telah mengumumkan jadwal resmi atau komitmen.

Pendekatan yang lebih praktis adalah melihat '2028' sebagai titik jangkar jalur kebijakan, dan melacak tiga sinyal prasyarat yang dapat diverifikasi:

  1. Aset kripto lebih lengkap dimasukkan ke dalam regulasi produk keuangan (termasuk peraturan perdagangan dalam dan luar).

  2. Apakah arah dan jadwal reformasi pajak jelas (terutama sistem pajak untuk individu dan klasifikasi pendapatan kripto)

  3. Apakah grup bank/pialang dapat lebih luas menyediakan layanan terkait kripto (mewakili sikap regulator terhadap partisipasi lembaga keuangan)

Jika proyek sebelumnya selesai lebih cepat, ada kemungkinan '2028' bisa dimajukan; sebaliknya, jika legislasi dan reformasi pajak tertunda di tingkat parlemen, waktu juga mungkin terus mundur.

5) Kesimpulan: Jepang bukan menolak Bitcoin ETF, tetapi memilih 'menyelesaikan dasar finansialisasi terlebih dahulu'

Menempatkan ETF kripto dalam pasar modal yang matang, tantangan sejati bukanlah 'apakah bisa membuat ETF', tetapi: dengan bahasa hukum apa mendefinisikan aset, bagaimana memastikan pasar adil, bagaimana melindungi investor ritel, bagaimana mencocokkan sistem perpajakan.

Sinyal dari regulasi Jepang menunjukkan bahwa mereka lebih cenderung menyelesaikan semuanya sekaligus, sehingga waktu yang ditarik hingga 2028 menjadi masuk akal—tetapi harga pasar adalah: modal dan inovasi produk mungkin terlebih dahulu diselesaikan penetapannya di luar negeri.

#BTCETF