Menurut laporan terbaru dari S&P Global dan NS3.AI, permintaan tembaga global diperkirakan akan melonjak dari 28 juta ton metrik pada tahun 2025 menjadi 42 juta ton metrik pada tahun 2040—sebuah peningkatan 50%.
Tiga Pilar Permintaan
Infrastruktur AI: Pusat data adalah konsumen tembaga yang besar. Fasilitas terkait AI saja diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan tembaga mereka sebesar 127%, mencapai 2,5 juta ton pada tahun 2040.
Elektrifikasi: Kendaraan listrik (EV) memerlukan sekitar tiga kali lipat tembaga dibandingkan mesin pembakaran internal tradisional. Selain itu, meningkatkan jaringan listrik global untuk menangani energi terbarukan adalah usaha yang "memerlukan banyak tembaga."
Puncak Pasokan: Produksi tembaga yang ditambang diperkirakan akan mencapai puncaknya sekitar 2030 sebelum memasuki penurunan yang stabil karena tambang yang menua dan kualitas bijih yang lebih rendah.
⛓️ 2026: Tahun Tokenisasi Logam
Seiring dengan semakin langkanya tembaga fisik, cara investor mengaksesnya pun berkembang. 2026 dikenal sebagai "Momen yang Menentukan" untuk tokenisasi sektor logam.
Mengapa Tokenisasi Penting:
Likuiditas: Platform blockchain seperti Toto Finance mengubah tembaga menjadi aset digital yang dapat diperdagangkan 24/7 tanpa gesekan pasar komoditas tradisional.
Kepemilikan Fraksional: Anda tidak lagi perlu memiliki gudang untuk "membeli saat harga turun." Aset tokenisasi memungkinkan investor ritel dan institusi untuk memiliki sebagian dari cadangan tembaga fisik.
Integrasi DeFi: Untuk pertama kalinya, tembaga menjadi "primitif finansial"—aset yang menghasilkan imbal hasil yang dapat digunakan sebagai jaminan dalam ruang keuangan terdesentralisasi (DeFi).
💬 Diskusi: Komoditas vs. Crypto
Dengan harga tembaga diprediksi naik 2–5 kali dalam 14 bulan ke depan karena kelangkaan, apakah Anda melihat logam yang ditokenisasi menjadi bagian penting dalam portofolio Anda? Atau apakah Anda lebih suka tetap pada aset digital murni seperti Bitcoin?
Mari dengar strategi Anda di bawah! 👇