
Baru-baru ini, data penjualan ritel Amerika Serikat bikin banyak orang angkat alis. Angkanya meleset dari prediksi. Tapi kalau dicermati, ini bukan sekadar angka biasa—ini kayak teriakan pelan dari konsumen yang mulai kehabisan napas.
Habis masa pandemi, belanja memang lagi gila-gilanya. Orang bebas beli apa saja. Tapi kini, tabungan darurat mulai kering, kartu kredit sudah di ubun-ubun, dan cicilan menumpuk. Konsumen yang dulu jadi mesin utama ekonomi AS, sekarang seperti pelari yang kehabisan energi di kilometer akhir.

Yang bikin situasi makin panas: The Fed masih setia dengan suku bunga tinggi. Sementara belanja melambat, mereka malah terus mengerem. Logikanya sederhana: kalau orang sudah males belanja, masa iya dipersulit dengan bunga gila-gilaan? Hasilnya ya bukan soft landing, tapi lebih mirip jatuh bebas.
Ini bukan drama ekonomi biasa. Ini alarm. Kalau kebijakan nggak segera dilunakkan, bukan cuma rak-rak toko yang sepi, tapi juga lapangan kerja. Mari kita lihat, apakah The Fed turun gunung sebelum semuanya benar-benar telat.