Harga emas tergelincir ke bawah US$5.000 dan kini bertahan di area US$4.900, tertekan oleh penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga yang masih tinggi.
š Apa yang Terjadi?
š Tekanan dari Dolar AS
Saat dolar menguat dan imbal hasil obligasi naik, emas yang tidak memberikan yield jadi kurang menarik bagi investor jangka pendek.
š®š³ India: Pembeli Mundur
Di India, salah satu konsumen emas terbesar dunia, pembeli ritel mulai menahan diri karena volatilitas harga yang tinggi.
šØš³ China: Justru Diborong
Sebaliknya di China, permintaan fisik meningkat menjelang Tahun Baru Imlek. Selain itu, pembelian oleh bank sentral juga masih solid, memberi bantalan fundamental pada harga.
ā Faktor Penentu Selanjutnya
1. Data inflasi & kebijakan suku bunga AS
Jika inflasi melunak ā peluang pelonggaran kebijakan ā emas bisa rebound.
Jika inflasi tinggi ā dolar makin kuat ā emas tertekan.
2 Arus dana safe haven
Ketegangan geopolitik atau risiko fiskal global bisa kembali mendorong minat ke emas.
3. Level teknikal psikologis US$5.000
Area ini kini berubah dari support menjadi resistance penting.
šÆ Jadi, Bangkit atau Masih Tertekan?
Emas saat ini berada di fase sensitif.
Secara fundamental, permintaan Asia masih menopang.
Namun secara makro, arah dolar dan suku bunga tetap jadi kunci utama.
Pertanyaannya sekarang:
Apakah ini sekadar koreksi sehat sebelum reli berikutnya, atau awal fase konsolidasi lebih panjang?
Disclaimer: Postingan ini hanya bertujuan untuk edukasi, bukan ajakan membeli atau menjual aset investasi.