Chief Market Strategist Gina Martin Adams dari HB Wealth baru-baru ini menerbitkan analisis mendalam. Dia mengingatkan pasar untuk memperhatikan bahwa meskipun pembacaan terbaru indeks harga konsumen CPI tampak relatif moderat, kekhawatiran di baliknya adalah bahwa laju pertumbuhan indeks harga produsen PPI sebenarnya telah melebihi CPI. Terutama sejak 2025-10-01, kesenjangan antara kedua data ini terus berkembang ke arah yang merugikan kesehatan ekonomi.

Tren ini mengungkapkan masalah inti: perusahaan menghadapi tekanan biaya yang terus meningkat, tetapi kemampuan untuk menaikkan harga di ujung konsumen secara bersamaan semakin melemah. Ketika kenaikan biaya input tidak dapat dengan lancar diteruskan melalui mekanisme transmisi harga, margin keuntungan perusahaan pasti akan tertekan secara substansial, dan tingkat keparahan ini jauh melampaui rasa aman yang ditunjukkan oleh data inflasi. Adams lebih lanjut menekankan bahwa kinerja pasar dan perubahan data ini bukanlah kebetulan. Melihat kembali ke 2025-10-01, itu adalah masa kunci ketika saham pertumbuhan mencapai puncaknya, segera setelah itu pasar mengalami pergeseran besar-besaran dari saham pertumbuhan ke saham nilai. Pergeseran gaya ini sangat konsisten dengan memburuknya hubungan antara CPI dan PPI, menunjukkan bahwa investor cerdas telah melakukan penataan defensif untuk prospek penurunan kemampuan penetapan harga perusahaan dan tekanan pada keuntungan.

Jika kondisi ini berlanjut, yaitu PPI inti tetap berada di atas tingkat CPI inti untuk jangka panjang, ini akan melepaskan sinyal yang sangat jelas bahwa kekuatan penetapan harga perusahaan sedang menuju kemunduran. Kesimpulan ini akan secara langsung menantang ekspektasi umum pasar saat ini bahwa margin keuntungan indeks S&P 500 akan membaik dalam tahun depan, dan bagi saham-saham yang berada dalam status penilaian tinggi, ini jelas merupakan berita yang sangat merugikan.