Bitcoin bergerak mendekati level yang jauh lebih penting dibanding harga utamanya. Para analis menyoroti zona yang merepresentasikan True Market Mean Price (TMMP), yaitu rata-rata harga beli on-chain bagi investor selain miner.
Menurut CryptoQuant, level ini kini menjadi batas psikologis dan struktural utama. Zona ini menguji apakah keyakinan para pelaku pasar cukup kuat untuk menyerap suplai atau sebaliknya, kepercayaan mulai melemah.
Bitcoin diperdagangkan di ‘harga keyakinan’ saat US$81.500 menguji keyakinan pasar
Indikator on-chain menandakan adanya tekanan di tengah siklus, resistance teknikal terus membatasi pergerakan naik, dan para analis kini semakin terbagi. Akhirnya muncul kebuntuan tipis antara:
Holder jangka panjang yang mempertahankan biaya pembelian dan
Penjual yang kini makin rela keluar di posisi impas.
Dengan latar belakang ini, TMMP muncul sebagai batas utama Bitcoin. TMMP bukan hanya sekadar indikator teknikal. Level ini menjadi patokan psikologis kolektif, menandai rata-rata harga awal saat para holder pertama masuk ke pasar.
Saat Bitcoin diperdagangkan di level ini, investor harus memilih antara bertahan dalam ketidakpastian atau menjual di titik impas. Titik pengambilan keputusan ini menambah tekanan pasar dan sering kali menentukan langkah besar selanjutnya.
Analis CryptoQuant, Moreno, menyoroti bahwa US$81.500 adalah TMMP, yakni harga saat modal riil terbanyak masuk ke pasar.
Secara historis, Bitcoin yang bergerak di atas level ini mendorong aksi beli saat koreksi terjadi dan proses akumulasi. namun, jika level ini hilang, zona yang sama sering berganti fungsi menjadi resistance karena investor ingin keluar di kisaran rata-rata harga masuk. Situasi ini kini terulang kembali.
“Ketika BTC diperdagangkan di atasnya, investor umumnya merasa nyaman… Tapi jika harga kehilangan level ini, zona yang sama biasanya berubah jadi resistance, karena mereka yang beli di rata-rata biaya memakai reli harga untuk keluar,” terang Moreno .
Ujian di sekitar US$81.500 saat ini menempatkan investor pada titik keputusan: bertahan dalam ketidakpastian atau menjual di titik impas.
Siklus sebelumnya menunjukkan besarnya dampak zona ini. Saat bull market 2020–2021, TMMP berulang kali berfungsi sebagai support. Pada 2022, zona ini justru menjadi resistance saat kepercayaan luntur. Peran yang diambil zona ini selanjutnya bisa menentukan arah Bitcoin dalam waktu dekat.
AVIV Ratio menambah lapisan perilaku ke gambaran ini. AVIV adalah metrik on-chain yang membandingkan valuasi pasar aktif terhadap valuasi realisasi, dengan fokus khusus pada profitabilitas investor. Berbeda dengan indikator momentum, AVIV menggambarkan sentimen berbasis keuntungan yang sudah direalisasikan.
Saat ini, AVIV mulai turun ke kisaran 0,8–0,9, level yang secara historis sering menandai masa transisi tengah siklus; periode di mana pasar tidak anjlok, tapi juga belum mampu bergerak naik secara meyakinkan.
“Jika Bitcoin bertahan di atas TMMP (US$81.500) dan AVIV stabil (0,8–0,9), itu berarti investor masih menyerap suplai dan menjaga rata-rata biaya mereka. Jika harga kehilangan TMMP dan AVIV terus turun, artinya profit makin tipis dan kepercayaan mulai goyah,” tambah analis CryptoQuant.
Kondisi seperti ini sering menekan pemilik lemah, bukan lewat penurunan mendadak, melainkan melalui pergerakan sideways yang berkepanjangan.
Ketika profit yang belum direalisasikan mulai tergerus, keyakinan investor diuji secara perlahan, sekaligus membuka peluang untuk akumulasi baru atau mencari permintaan yang lebih dalam.
Resistance Teknis Perkuat Market Sideways dan Ketakutan Ekonomi Makro Buat Debat Semakin Dalam
Pergerakan harga Bitcoin sejauh ini belum banyak memberikan harapan. Bitcoin berkali-kali gagal breakout di atas harga pembukaan tahunannya, sehingga keraguan makin kuat di kalangan trader momentum dan pelaku teknikal.
Kegagalan untuk kembali ke level ini semakin membuat pasar meyakini bahwa sementara waktu, potensi kenaikan tetap terbatas.
Kebuntuan teknikal ini mencerminkan perpecahan ideologi yang semakin dalam di pasar. Holder veteran, yang banyak di antaranya masih terpengaruh puncak 2021 dan penurunan 70% setelahnya, kini nampak semakin peka terhadap sinyal teknikal dan model siklus pasar.
“Kenapa harga Bitcoin tidak reli? Karena 50% melakukan jual (OG yang trauma 2021, investor teknikal memperhatikan RSI, penggemar siklus 4 tahun mengira akan terjadi bear market 2 tahun setelah halving) sedangkan 50% lainnya melakukan beli (investor fundamental, TradFi, bank). Pertarungan besar … sampai para penjual kehabisan amunisi,” tulis analis PlanB.
Peserta kelembagaan dan traditional finance, di sisi lain, nampaknya tidak terlalu khawatir dengan siklus jangka pendek. Akumulasi mereka yang konsisten membantu menyerap pasokan, namun tetap belum cukup kuat untuk membuat pasar breakout dari zona harganya.
Menambah ketidakpastian, analis ekonomi makro Luke Gromen baru-baru ini mengungkapkan bahwa ia telah menjual sebagian besar kepemilikan Bitcoinnya di kisaran US$95.000. Gromen menyebut adanya breakdown teknikal jangka panjang serta kekhawatiran sistemik.
Keputusannya, yang ia bagikan melalui podcast Swan Bitcoin No Second Best, memperkuat narasi bearish di saat profitabilitas investor memang sedang tertekan.
Gromen menyoroti momentum jangka panjang yang makin melemah, gagalnya Bitcoin mencetak harga tertinggi baru melawan emas, serta kekhawatiran akan fragilitas pasar secara umum menjelang 2026.
Meskipun host Swan mencoba membantah kesimpulannya, aksi jual Gromen tetap berpengaruh kuat di kalangan investor, apalagi saat keyakinan mulai goyah di wilayah support utama.
Keluar dari pasar oleh figur terkenal biasanya memberi beban psikologis besar, apalagi ketika harga bergerak menyempit dan sinyal on-chain mulai menunjukkan profitabilitas yang menurun.
Akankah keyakinan tetap bertahan?
Sekarang, Bitcoin berada di persimpangan yang lebih ditentukan oleh keyakinan daripada hype sesaat. Jika harga bertahan di atas US$81.500 sementara rasio AVIV stabil, itu menandakan investor masih siap mempertahankan harga rata-rata akuisisi mereka. Hal ini bisa jadi syarat penting untuk melanjutkan tren naik.
Namun, kegagalan akan berdampak besar. Jika harga Bitcoin turun tegas di bawah TMMP dan diikuti tekanan AVIV yang makin mengecil, sinyalnya jelas: keyakinan saja tidak cukup. Langkah ini memaksa pasar mencari permintaan di harga yang lebih rendah.
