Harga Bitcoin melonjak di awal tahun baru, didukung oleh optimisme yang terbarui dan arus masuk exchange-traded fund (ETF) spot yang kuat. Raja aset kripto ini terus naik meski ada ketegangan geopolitik setelah serangan AS ke Venezuela.

Pasar tetap tangguh, menunjukkan bahwa investor lebih memprioritaskan tren likuiditas dan permintaan institusi dibanding ketidakpastian ekonomi makro jangka pendek.

Crypto Whale Ubah Sikap terhadap Bitcoin

Perilaku whale berubah secara mencolok dalam sehari terakhir. Alamat yang memegang antara 10.000 hingga 100.000 BTC menjual sekitar 50.000 BTC antara 29 Desember sampai 3 Januari. Fase distribusi tersebut mencerminkan kehati-hatian saat Bitcoin terkonsolidasi di bawah resistance utama.

Dalam 24 jam terakhir, wallet whale yang sama justru melakukan pembelian. Mereka mengakumulasi sekitar 10.000 BTC, senilai US$912 juta, setelah Bitcoin melampaui level US$90.000. Akumulasi baru ini menandakan kepercayaan di antara para holder besar dan bisa membantu menyerap tekanan jual jangka pendek.

Ingin dapat insight token seperti ini? Daftar di Newsletter Harian Crypto Editor Harsh Notariya di sini.

Whale sering berperan sebagai jangkar likuiditas selama masa volatilitas. Kembali aktif belanja menandakan ekspektasi harga akan lebih tinggi ke depan. Jika akumulasi berlanjut, maka ini bisa memperkuat level support serta menstabilkan pergerakan Bitcoin di awal 2026.

Apakah Bitcoin miner Menjadi Masalah?

Perilaku miner justru memberi penyeimbang terhadap sentimen bullish. Perubahan posisi bersih miner menunjukkan penjualan meningkat tajam dalam 24 jam terakhir. Arus keluar naik dari 55 BTC menjadi 604 BTC, yang mencerminkan bahwa para miner memanfaatkan harga tinggi untuk merealisasikan profit.

Walaupun volumenya tergolong kecil dibanding total suplai pasar, penjualan miner tetap berdampak pada dinamika jangka pendek. Peningkatan suplai baru ini dapat menahan laju kenaikan harga, terutama jika pertumbuhan permintaan melambat. Penjualan ini mungkin saja memperlambat laju pendakian harga Bitcoin tetapi tidak langsung membalikkan arah pasar secara penuh.

Miner biasanya menjual saat harga menguat untuk membiayai operasional. Aktivitas ini tidak selalu berarti mereka yakin harga akan jatuh. Tapi, bila digabung dengan aksi realisasi profit yang meluas, kondisi ini bisa menunda breakout sampai ada permintaan baru yang cukup menyerap suplai tambahan.

Breakout Harga BTC Menunggu Konfirmasi

Bitcoin breakout dari pola descending wedge selama enam minggu terakhir dalam 24 jam, dan diperdagangkan dekat US$91.327 pada waktu publikasi. Breakout teknikal ini menandakan momentum mulai membaik.

Agar breakout bertahan, Bitcoin harus mengamankan US$92.031 sebagai support, yang nantinya membuka jalan menuju US$95.000.

Konfirmasi bullish perlu merebut kembali exponential moving average kunci. EMA 50-hari di angka sekitar US$91.554 dan EMA 365-hari di kisaran US$97.403 sekarang menjadi resistance.

Jika level-level ini berubah menjadi support, maka trend reversal akan makin kuat serta memperbesar peluang harga kembali menembus di atas US$100.000.

Risiko jangka pendek masih berhubungan dengan reaksi ekonomi makro. Pasar global akan merespons aksi AS di Venezuela saat perdagangan dibuka kembali pada hari Senin.

Jika ada reaksi negatif risk-off, harga Bitcoin bisa tertekan, sehingga kembali turun ke US$90.000 atau lebih rendah dan membatalkan skenario bullish dalam waktu dekat.