Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda memakai momen publik pertamanya di tahun 2026 untuk menyampaikan pesan yang sangat jelas. Siklus kenaikan suku bunga bank sentral ini masih jauh dari selesai.
Pernyataan ini muncul sekitar dua minggu setelah BOJ menaikkan suku bunga acuan menjadi 0,75% pada 19 Desember. Tapi, keputusan itu tertutupi oleh panduan Ueda yang kurang jelas soal kenaikan berikutnya. Pasar kecewa dan yen terjungkal ke rekor terendah terhadap euro dan franc Swiss. Pernyataan Tahun Baru Ueda nampaknya bertujuan untuk mengoreksi pesan tersebut.
Pasar Obligasi Bereaksi
“We will keep raising rates in line with improvement in the economy and inflation,” ujar Ueda pada hari Senin di konferensi Tahun Baru yang digelar Japanese Bankers Association. “The appropriate adjustment of monetary easing will lead to the achievement of stable inflation target and longer-term economic growth.”
Sesaat sebelum pidato Ueda, yield obligasi utama Jepang tenor 10-tahun terus naik, mencapai level tertinggi sejak 1999. Kenaikan ini menandakan keyakinan pasar yang makin kuat bahwa kenaikan suku bunga selanjutnya bakal terjadi.
Baca Juga: Meme Coin 2026 Meledak: PEPE dan DOGE Pimpin Reli Pasar
Kebanyakan pengamat BOJ memperkirakan kenaikan berikutnya sekitar pertengahan 2026, meski beberapa analis mewanti-wanti bahwa kenaikan suku bunga bisa terjadi lebih cepat jika melemahnya yen berlanjut. Saat tengah hari di Tokyo, yen di perdagangkan di sekitar 157,15 per dolar AS—hampir menyentuh batas 160 yang di yakini pelaku pasar bisa memicu intervensi pemerintah.
Musim panas lalu, otoritas Jepang menjual sekitar US$100 miliar untuk mempertahankan nilai mata uang di level serupa. Wakil Menteri Keuangan Atsushi Mimura memperingatkan bulan lalu bahwa pejabat siap mengambil “langkah yang tepat” terhadap gejolak ekstrem nilai tukar.
Risiko Struktural Yang Mengintai
BOJ sendiri mengakui pada akhir Desember bahwa “suku bunga acuan riil di Jepang masih yang terendah secara global.” Walaupun naik ke 0,75%, inflasi yang berjalan di 2,9% menjadikan suku bunga riil negatif sekitar -2,15%. Bank sentral itu menerangkan masih ada “jarak yang cukup besar ke tingkat suku bunga netral”—yang artinya bisa ada tambahan kenaikan sebesar 100-175 basis poin lagi ke depan.
Tekanan sudah mulai terasa di sistem keuangan Jepang. Norinchukin Bank, bank koperasi pertanian, melaporkan kerugian US$12,6 miliar serta terpaksa menjual obligasi asing senilai US$63 miliar. Bank-bank daerah kini menanggung sekitar ¥3,3 triliun kerugian belum terealisasi, naik 260% sejak Maret 2024, karena yield naik memangkas nilai kepemilikan obligasi mereka.
Dalam perubahan bersejarah, Jerman menyalip Jepang sebagai negara kreditor terbesar di dunia pada akhir tahun lalu—pertama kalinya dalam 34 tahun. Pergeseran ini menunjukkan bahwa arus modal keluar Jepang, yang dulunya menopang pasar global, mulai berbalik arah.
Apa Artinya Untuk Bitcoin?
Bagi pasar kripto, sikap hawkish BOJ menimbulkan kekhawatiran yang sudah tak asing. Bitcoin turun 20-31% setiap kali BOJ melakukan kenaikan suku bunga tiga kali terakhir, karena pelepasan carry trade yen menguras likuiditas aset berisiko global.
Prosesnya sederhana: selama puluhan tahun, investor meminjam yen dengan suku bunga nyaris nol untuk diinvestasikan ke aset berimbal hasil lebih tinggi di seluruh dunia, termasuk aset kripto. Saat suku bunga Jepang naik, perdagangan ini makin tidak menguntungkan sehingga posisi investor di paksa untuk dilikuidasi di berbagai pasar.
Flash crash di bulan Agustus 2024 memberikan contoh nyata apa yang terjadi jika posisi tersebut dilepas secara mendadak. Saat BOJ menaikkan suku bunga tanpa sinyal eksplisit sebelumnya, indeks Nikkei jatuh 12% hanya dalam sehari, dan Bitcoin juga anjlok bersamaan.
Untuk sekarang, reaksi yen yang datar atas pernyataan Ueda menandakan pasar masih menunggu aksi nyata, bukan sekadar ucapan. Carry trade tetap jalan selama yen masih lemah dan selisih bunga riil tetap lebih menguntungkan dolar AS—saat ini lebih dari 3,5 poin persentase.
Menanti Keputusan BoJ 23 Januari: Titik Balik Pasar Kripto?
Keputusan kebijakan BOJ berikutnya pada 23 Januari bakal sangat penting. Jika ada kenaikan suku bunga lagi atau sinyal pengetatan lebih cepat, yen bisa menguat tajam. Ini memicu aksi lepas cepat carry trade yang selama ini sering menekan pasar kripto.
Sebaliknya, jika sikap kebijakan masih belum jelas, situasi tenang tapi penuh kecemasan ini kemungkinan akan berlangsung lebih lama. Namun dengan risiko yen makin melemah dan intervensi pemerintah makin besar.
Bagaimanapun juga, trader kripto tetap harus waspada terhadap volatilitas yang di sebabkan Jepang dalam beberapa minggu ke depan. Seperti yang di peringatkan Robin Brooks dari Brookings Institution, Jepang kini sedang berjalan di tali tipis. Antara pelemahan mata uang dan krisis utang. Cara Negeri Sakura menyeimbangkan hal ini akan membawa dampak yang jauh melampaui Tokyo.
Bagaimana pendapat Anda tentang potensi kenaikan suku bunga lanjutan dari Bank of Japan ini? Apakah menurut Anda pasar kripto sudah cukup kuat untuk menghadapi guncangan likuiditas global? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

