Pendorongan Presiden Donald Trump untuk mengambil alih Greenland yang kembali mencuat kini tidak lagi hanya lewat kabel diplomatik dan sorotan politik.
Sekarang, pasar berbasis kripto mulai secara aktif menilai kemungkinan ini, di mana para trader mengubah ketidakpastian geopolitik menjadi peluang perdagangan yang bisa ditradingkan, jauh sebelum ada kesepakatan yang benar-benar terjadi.
Gambit Greenland Trump Mulai Berubah Jadi Transaksi Kripto
Platform prediksi on-chain Polymarket menampilkan bahwa pertanyaan “Akankah Trump mengambil alih Greenland sebelum 2027?” kini dihargai sekitar 15%, dengan hampir US$3 juta volume total yang sudah dipertaruhkan untuk hasilnya.
Walaupun peluangnya masih kecil, aktivitas ini sendiri sudah menunjukkan bahwa pasar kripto tidak memperdebatkan apakah ide ini realistis atau tidak—mereka sudah memperdagangkannya.
Waktunya sangat krusial. Reuters melaporkan bahwa pada tanggal 7 Januari, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan ia akan bertemu dengan para pemimpin Denmark minggu depan untuk membahas Greenland. Ia menggarisbawahi bahwa Washington belum melepaskan minat Trump yang sudah lama terhadap wilayah Arktik tersebut.
Menggemakan pernyataan Trump sebelumnya, Rubio menyebutkan adanya kekhawatiran keamanan nasional AS di tengah meningkatnya aktivitas Rusia dan Cina di kawasan itu. Ia juga menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama, meskipun ia tidak benar-benar menutup kemungkinan opsi yang lebih tegas.
Perlu dicatat bahwa Denmark dan Greenland dengan tegas menolak kemungkinan penjualan tersebut, kembali menegaskan bahwa “Greenland tidak untuk dijual,” dan para sekutu Eropa sudah memperingatkan bahwa agresi AS bisa memecah belah NATO.
Walaupun tidak ada tanda-tanda invasi dalam waktu dekat, meningkatnya retorika sudah cukup untuk memicu posisi nyata dengan uang asli di on-chain.
Hal ini mirip dengan apa yang sudah terjadi di Venezuela, di mana para bettor Polymarket sudah meraup untung.
Data Polymarket menunjukkan para trader membagi situasi Greenland ke beberapa jalur eskalasi berbeda alih-alih menganggapnya sebagai peristiwa biner. Di luar headline pasar soal akuisisi penuh, kontrak terkait mengungkapkan adanya hierarki ekspektasi.
Pada pasar terpisah yang menanyakan apakah AS akan mengambil sebagian Greenland di tahun 2026, kemungkinannya dinilai 15%. Sementara itu, skenario lebih ekstrem, yaitu invasi militer AS, diperdagangkan hanya di kisaran 8–9%, sehingga menjadi skenario yang paling rendah nilainya dari seluruh opsi yang ada.
Sebaliknya, langkah simbolis seperti Trump mengunjungi Greenland sebelum 31 Maret justru punya peluang tertinggi sekitar 22–23%, walaupun likuiditas di pasar ini terhitung tipis.
Data order book memperkuat pesan tersebut. Di berbagai pasar, penjual mendominasi di atas harga saat ini, sehingga kenaikan peluang pada taruhan akuisisi dibatasi hanya sampai 16–18 sen.
Pembeli baru masuk di bawah harga pasar, menandakan keyakinan yang hati-hati ketimbang euforia spekulatif. Singkatnya, para trader siap memberi harga pada risiko geopolitik, tetapi tidak mau memburunya secara agresif.
Mengapa Crypto Peduli pada Greenland saat Pasar Menghargai Skenario, Bukan Sekadar Suara Singkat
Kisah ini makin menarik perhatian komunitas kripto bahkan di luar urusan politik. Sumber energi terbarukan yang sangat besar dan iklim dingin Greenland telah menghidupkan kembali spekulasi tentang potensi jangka panjang wilayah ini sebagai pusat Bitcoin mining, apalagi ketika AS ingin mengurangi ketergantungan pada hash power luar negeri.
Meski begitu, menurut laporan Financial Times, Greenland mungkin bukan pusat mining seperti yang dipikirkan banyak orang. Para ahli menyebut 80% wilayahnya tertutup es, infrastruktur yang minim, serta bijih mineral yang rumit. Tapi perubahan iklim dan terbatasnya eksplorasi masih menjaga peluang ke depan.
Pada saat yang sama, cadangan mineral rare earth Greenland yang penting untuk GPU, infrastruktur AI, dan perangkat keras canggih menjadi keuntungan strategis yang bisa berdampak besar ke sektor terkait kripto seperti token AI dan proyek real-world asset (RWA).
Secara makro, para trader juga membingkai situasi ini sebagai bagian dari narasi “aset riil versus fiat.” Akuisisi wilayah atau sumber daya dalam skala besar akan membuat pengeluaran fiskal, penerbitan utang, serta menambah ketegangan geopolitik semakin tinggi.
Kondisi seperti ini secara historis justru semakin memperkuat daya tarik Bitcoin sebagai lindung nilai, meskipun bisa menimbulkan volatilitas jangka pendek.
Penting untuk kembali menekankan bahwa Polymarket tidak memprediksi hasil akhir. Sebaliknya, platform ini memperlihatkan bagaimana modal bereaksi terhadap ketidakpastian. Tidak seperti pasar tradisional yang sering menunggu kejelasan kebijakan, pasar prediksi on-chain mengubah berita utama jadi probabilitas secara real time.
Hasilnya adalah sistem penetapan harga paralel untuk manuver kekuatan global, yang terlihat hingga ke wallet individu.
Apakah ambisi Trump terhadap Greenland akan berlanjut atau terhambat, sinyalnya sudah jelas. Pasar aset kripto kini semakin berperan sebagai sistem peringatan dini untuk risiko geopolitik, sebab pasar ini menyerap, menentukan harga, dan menguji skenario jauh sebelum para diplomat mencapai suatu kesepakatan.

