Seluruh tim Electric Coin Company (ECC), pengembang inti di balik Zcash (ZEC), telah hengkang setelah menuduh terjadinya constructive discharge oleh Bootstrap, organisasi nirlaba yang menjadi pengawas perusahaan tersebut.

Krisis ini terjadi di momen penting bagi ZEC, aset kripto yang fokus pada privasi, yang tahun ini mengalami tekanan pasar. Sepanjang 2026, altcoin tersebut telah turun lebih dari 18%.

Konflik Tata Kelola Sebabkan Tim ECC Pergi

Sebagai informasi, Bootstrap adalah organisasi nirlaba 501(c)(3) yang di bentuk pada tahun 2020 untuk mengawasi ECC dan mendukung ekosistem Zcash. Tapi, perkembangan terbaru menyoroti adanya masalah tata kelola yang semakin membesar.

Pada sebuah unggahan terkini di X (sebelumnya Twitter), Josh Swihart, yang kini menjadi mantan CEO ECC, mengumumkan keluarnya tim tersebut. Swihart menuding mayoritas anggota dewan Bootstrap, termasuk Zaki Manian, Christina Garman, Alan Fairless, dan Michelle Lai (di sebut sebagai ZCAM), sudah tidak lagi sejalan dengan misi asli Zcash.

  • Baca Juga: Privasi Kripto: Tantangan Baru Aturan Pajak Yang Berlaku Di 2026

“Selama beberapa minggu terakhir, semakin jelas bahwa mayoritas anggota dewan Bootstrap (organisasi nirlaba 501(c)(3) yang dibentuk untuk mendukung Zcash dengan mengawasi Electric Coin Company), khususnya Zaki Manian, Christina Garman, Alan Fairless, dan Michelle Lai (ZCAM), kini jelas telah keluar dari misi Zcash. Kemarin, seluruh tim ECC keluar setelah mengalami constructive discharge* oleh ZCAM,” tulisnya .

Constructive discharge terjadi saat pemberi kerja menciptakan kondisi kerja yang sangat buruk sehingga karyawan yang wajar akan merasa terpaksa mengundurkan diri. Menurut hukum ketenagakerjaan AS, pengunduran diri seperti ini “bisa di anggap tidak sukarela.”

“Syarat-syarat pekerjaan kami diubah dengan cara yang membuat kami tidak mungkin menjalankan tugas secara efektif dan berintegritas,” tambah Swihart.

Meski demikian, mantan tim ECC berencana untuk mendirikan perusahaan baru, sambil tetap fokus pada “membangun uang pribadi yang tak bisa di hentikan,” menurut Swihart. Ia juga menegaskan bahwa protokol Zcash sendiri tidak terdampak, sebab masalah ini berkaitan dengan tata kelola, bukan sisi teknisnya.

“Keputusan ini murni demi melindungi pekerjaan tim kami dari tindakan tata kelola yang tidak baik, yang membuat kami tidak bisa lagi menjalankan misi asli ECC,” terang Swihart.

Pendiri Zcash dan mantan CEO ECC, Zooko Wilcox, juga menanggapi situasi tersebut. Ia menegaskan bahwa permasalahan tata kelola ini tidak berdampak pada jaringan Zcash. Ia kembali menegaskan bahwa protokol ini tetap open source, aman, dan permissionless.

Wilcox juga mengungkapkan yakin secara pribadi terhadap integritas anggota dewan Bootstrap yang di sebut Swihart dalam pernyataannya, walaupun ia tidak mengambil sikap di tengah sengketa tersebut.

“Semua ini tidak ada kaitannya dengan saya ataupun Shielded Labs, dan saya tidak dalam posisi untuk memberikan pendapat tentang hal tersebut,” tuturnya. “Saya sudah bekerja dekat dengan Alan Fairless, Zaki Manian, dan Christina Garman selama lebih dari 10 tahun, termasuk melalui banyak situasi sulit dan intens, serta dengan Michelle Lai selama sekitar 5 tahun. Berdasarkan pengalaman saya, saya percaya mereka semua adalah orang-orang yang sangat berintegritas tinggi.”

Perselisihan ini terjadi setelah serangkaian pergantian kepemimpinan di ekosistem Zcash. Swihart menjabat sebagai CEO pada Desember 2023, menggantikan pendiri Zooko Wilcox yang mundur. Setahun sebelumnya, Peter Van Valkenburgh juga mengundurkan diri dari dewan Zcash Foundation.

Selain itu, bulan lalu tim melakukan berbagai perubahan organisasi untuk mengurangi friksi internal dan memposisikan “ECC agar sukses berlanjut di 2026 dan seterusnya.”

Kinerja Pasar ZEC di Tengah Gejolak Governance

Krisis tata kelola ini terjadi saat ZEC menghadapi tantangan pasar yang lebih luas. Pada akhir tahun 2025, altcoin ini mencatat reli signifikan, dan menonjol di tengah penurunan pasar yang lebih luas.

Meningkatnya minat dan permintaan terhadap aset kripto yang fokus pada privasi mendorong valuasi ZEC naik. Berdasarkan data CryptoRank, ZEC melesat hingga 816,7% sepanjang tahun 2025, menjadi performa terbaiknya sejak tahun 2017.

Tetapi, koin ini mulai mendapat tekanan penurunan di 2026. ZEC turun sekitar 18% sejak awal tahun. Selain itu, data BeInCrypto Markets menunjukkan token ini turun sekitar 16% dalam 24 jam terakhir. Pada waktu publikasi, token ini di perdagangkan di kisaran US$409,79.

Meski begitu, penurunan terbaru ini bukan kasus terpisah. Seluruh pasar aset kripto juga terkoreksi hampir 3% di periode yang sama. Walau demikian, hengkangnya tim pengembang mungkin ikut membebani sentimen pasar jangka pendek terhadap ZEC.

Meski begitu, seorang pengamat pasar menuturkan bahwa masalah tata kelola terbaru tidak berdampak pada protokol Zcash, fitur privasinya, maupun operasional jaringan tersebut. Pengamat ini memandang kepergian tim ECC sebagai keputusan berdasarkan prinsip, bukan tindakan meninggalkan proyek.

“Tim ECC yang asli memilih mundur daripada mengorbankan tujuan membangun uang privat yang tak terhentikan… Zcash memang dirancang agar bisa bertahan lebih lama dari perusahaan, dewan, maupun individu. Saat ini jadi buktinya. Chain tetap berjalan. Kriptografi tetap berfungsi. Visi tetap terjaga. Gejolak jangka pendek adalah harga dari kredibilitas jangka panjang. Dan kredibilitas adalah sentimen bullish,” tulis pengamat pasar tersebut .

Seiring situasi yang masih terus berkembang, para pelaku pasar memperhatikan dengan saksama bagaimana kejelasan tata kelola dan kelanjutan pengembangan berjalan di seluruh ekosistem Zcash.

Bagaimana pendapat Anda tentang krisis tata kelola Zcash ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!