Aset crypto digadang-gadang akan memasuki fase perubahan besar pada tahun 2026. Hal ini seiring ditinggalkannya model investasi lama yang mendominasi selama satu dekade terakhir. Investor institusional kini menulis ulang strategi mereka untuk menyesuaikan diri dengan lanskap pasar yang terus berubah.

Perubahan ini tak ayal membuka peluang signifikan bagi sejumlah sektor, terutama proyek yang mampu menarik arus modal jangka panjang dan beradaptasi dengan kebutuhan institusi global.

Institusi Adopsi Strategi Anyar

Menurut analis dari Milk Road, model investasi yang berlaku selama satu dekade terakhir mulai kehilangan daya dorong di tengah pasar yang berubah akibat percepatan simultan berbagai teknologi kunci. Pada 2025, meskipun terjadi kemajuan besar di sisi teknologi dan regulasi, harga aset crypto cenderung stagnan sementara saham dan emas justru melonjak. Kondisi ini menyingkap keterbatasan pendekatan lama yang dirancang untuk dunia dengan laju perubahan lebih lambat.

Kini, institusi hijrah ke diversifikasi strategis yang mencakup likuiditas demi fleksibilitas, infrastruktur crypto yang solid, serta proyek artificial intelligence (AI) yang mampu mendongkrak produktivitas sekaligus menekan biaya.

  • Baca Juga: Miner Era Satoshi Pindahkan 2.000 BTC setelah 15 Tahun Bungkam

Dinamika ekonomi pun berevolusi seiring bangkitnya AI, otomatisasi, energi, infrastruktur data, transportasi otonom, dan rel keuangan on-chain secara bersamaan, yang memicu arus modal berskala masif.

Regulasi crypto di Amerika Serikat yang semakin kokoh sepanjang 2025 mendorong investor institusional untuk memasuki fase aktif pada 2026, setelah sebelumnya melakukan pengujian awal. Menunggu konfirmasi yang benar-benar jelas justru berisiko membuat investor tertinggal dalam restrukturisasi yang sedang berlangsung. Para pemenang adalah mereka yang memosisikan modal lebih awal di sektor-sektor yang saling beririsan ini, serta tidak terpaku semata pada crypto.

Tiga Aset Crypto Berpotensi Raih Benefit

Bitcoin, Ethereum, dan Solana muncul sebagai favorit institusi dalam lanskap ini. Rasio BTC terhadap emas dan perak mengisyaratkan potensi rotasi modal menuju Bitcoin sejak kuartal pertama 2026, setelah logam mulia stabil usai mendominasi dalam periode sebelumnya.

  • Baca Juga: CZ Binance Prediksi Kedatangan ‘Super Cycle’ Kripto, Ini Faktor Kuncinya

Laporan ekonomi makro mingguan Binance Research mencatat adanya pergeseran struktural di pasar aset digital. Mulai dari dominasi investor ritel menuju modal institusional dan strategi jangka panjang. Perubahan ini mendapat dukungan dari akumulasi aset digital oleh negara-negara berkembang serta inisiatif legislatif AS terkait pembentukan cadangan strategis aset digital.

Sejak persetujuan ETF pada 2024, fase kedua adopsi institusional pun berjalan. Hal ini tecermin dari setoran terbaru Morgan Stanley untuk ETF Bitcoin dan Solana. Selain itu, konsentrasi imbal hasil pada kelompok saham “Magnificent Seven” mendorong investor untuk melakukan diversifikasi ke crypto.

Bitcoin jelas menjadi pilihan utama. Namun, Ethereum dan Solana juga membidik peran lebih besar dalam sistem keuangan global dengan menarik aset-aset kelas atas. Bukan tidak mungkin, ekosistem keduanya akan berkembang seiring derasnya arus modal institusional ke depan.

Bagaimana pendapat Anda tentang 3 aset crypto favorit institusi untuk 2026 ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!